Surat Cinta Dokter
Dokter Budi jatuh cinta kepada seorang gadis cantik bernama Ita. Karena sang Dokter ingin mencurahkan perasaan hatinya, suatu hari ia mengirimi Ita sepucuk surat cinta.
Baru beberapa minggu kemudian datang surat balasan dari Ita.
"Dokter Budi yang baik, suratmu sudah Ita terima. Mohon maaf Ita agak terlambat membalasnya, karena Ita harus ke Apotek dulu agar dapat tahu isi suratmu."
Read More...
MENCARI KEADILANKeluarga korban yang berupaya mencari keadilan saat berada di Kantor W.Suwito,SH & Associates. FOTO Andika Lay/Borneo Tribune
Andika LayBorneo Tribune, Pontianak
Kasus kematian Chia Rudiyanto di tahanan Polsek Sungai Raya, beberapa waktu lalu telah menyimpan duka keluarga. Kematian Rudiyanto yang menurut versi Polsek Sungai Raya meninggal karena gantung diri di dalam jeruji besi.Rudiyanto yang tinggal di Dusun Sumbawa, Desa Sungai Duri RT.02/RW.07 Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang menjadi tahanan Polsek Sungai Raya.
Penangkapan Rudiyanto dilakukan oleh dua anggota Polsek Sungai Raya, dikarenakan adanya laporan Abon warga setempat yang tidak terima anaknya Teddy Wijaya menjadi korban pelecehan seksual oleh Rudiyanto.Keluarga korban, Kamis (30/4) mendatangi Kantor W. Suwito,SH., MH., dan Associates menyampailkan prihal permasalahan yang dihadapi keluarganya dan meminta bantuan hukum dari advokat untuk mengadukan kasus itu ke Kapolda Kalbar.Basuki Wilbertus, tokoh masyarakat yang mendampingin keluarga korban menyatakan kedatangannya ke Pontianak untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang menghendaki kasus kematian di dalam tahanan Polsek Sungai Raya diselesaikan secara tuntas tanpa ada diskriminasi.“Tindak tegas aparat yang menyalahgunakan wewenang, oknum polisi yang terlibat dalam kasus ini harus diadili, hukum harus ditegakkan, kami berharap tidak diskriminasi dalam penyelesaian kasus ini, dan kasus ini harus secepatnya dituntaskan tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya.Dewi Aripurnawati,SH, dari Kantor W. Suwito dan Associates yang ditunjuk Bun Djung Khim membuat pengaduan resmi kepada Kapolda Kalbar yang intinya mohon keadilan serta perlindungan hukum sehubungan dengan meninggalnya anak kliennya.“Penangkapan yang dilakukan oleh Petugas Polsek Sungai Raya dalam mengamankan Rudiyanto tidak dilengkapi surat tugas dan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Polsek Sungai Raya,” jelasnya.Menurutnya, kronologis kejadiannya adalah, walau tidak ada surat perintah penangkapan, almarhum Rudiyanto bersedia ikut petugas ke Polsek Sungai Raya, karena jaminan dari kepala kampung, Seniman dan Ketua RT, bahwa korban akan diperiksa secara baik-baik.Setelah dijemput oleh dua anggota, almarhum Rudiyanto yang baru saja selesai mandi dan sebelum berangkat untuk dimintai keterangan di Polsek Sungai Raya, korban meminta ijin kepada petugas untuk makan terlebih dahulu, namun tidak diijinkan dan setelah itu almahum langsung dibawa petugas.“Karena almahum saat dijemput belum makan, maka sekitar pukul 20.00, keluarga mengantarkan makan dan air meneral untuk almahum, tapi tidak diijinkan bertemu, dan hanya dapat menitipkan makanan dan air meneral untuk anaknya yang ternyata sampai diberitahu sudah meninggal makanan dan minumannya masih utuh,” jelasnya.Belum semalam ditangkap, dini hari jam 03.00, orang tua almahum diberitahu oleh Aliong dan temannya untuk segera menjemput dan memakamkan jenazah almahum yang saat itu berada di Puskesmas Sungai Duri.“Almahum meninggal malam hari saat ditangkap, dan dilaporkan meninggal dunia pada 24/4 pukul 23.45 tergantung menggunakan kemeja pendeknya yang seakan-akan sedikit dilipat kecil dan terikat dijeruji ventilasi ruang tahanan,” ungkapnya.Saat almahum ditemukan tergantung di ruang tahanan, orangtua almahum tidak pernah dihubungi petugas Polsek Sungai Raya. Padahal, ketika almahum dijemput di rumahnya oleh petugas, almahum dalam keadaan sehat dan petugas bertemu dengan orang tua almahum.Saat berada di Puskesmas Sungai Duri besoknya, orangtua almarhum, surat perintah penangkapan dan perintah penahanan yang sudah ditandatangani dan sekaligus diberi cap jempol almarhum, baru disampaikan oleh Ketua RT, Syamsudin kepadanya.“Karena banyak kejanggalan yang terjadi pada jenazah almarhum, dan terlihat ada bukti kekerasan fisik pada almahum, maka keluarganya meminta untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah almahum. Karena tidak adanya tim forensik di Pontianak, maka keluarga mohon pemeriksaan dapat dilakukan oleh ahli forensik yang bertugas di Jakarta, keluarga almahum menyanggupi semua biaya otopsi dan biaya petugas yang mengantar,” jelasnya.Hal ini dilakukan oleh keluarga, menurut Dwi, dikarenakan tubuh almarhum juga ditemukan bengkak dan memar pada mata sebelah kiri, memar pada ulu hati, dan tidak adanya pemberitahuan kepada keluarga ketika almarhum diturunkan dari jeratan kemejanya.“Kami sangat mengharapkan, agar dapat dilakukan penyidikan terhadap meninggalnya korban karena kami menduga adanya tindak kekerasan dalam pemeriksaan di Polsek Sungai Raya, berikut proses penyidikan, penangkapan dan penahanan yang dilakukan secara melawan hukum terhadap korban,” kata Dewi.
Read More...
Label: News
Lukas B Wijanarko
Borneo Tribune, न्गाबंग
Minggu (1/3), agak berbeda dari biasanya bagi warga Desa Tonang Dusun Runut Kecamatan Sengah Temilak Kabupaten Landak. Mereka bukan hanya telah memiliki sebuah tempat ibadah baru. Dusun kecil yang biasanya sepi ini, juga kedatangan artis bernama Ajeng atau yang lebih dikenal dengan nama Ajeng Mamamia.
Selain artis ibukota, tempat ibadah GPPIK Bukit Torsina Runut ini, juga akan diresmikan Gubernur Kalbar, Cornelis, yang didampingi Wakil Bupati Landak Agustinus Sukiman, Ketua DPRD Landak Minsen, dan Ketua Gapeknas Tapanus.
Gereja yang hanya berukuran 10X18 meter itu, tak mampu menampung ratusan jemaat yang ingin melakukan ibadah, dan melihat sang artis dari dekat. Sebenarnya, gereja itu sudah ada sejak lama dibangun. Bahkan, saat Cornelis masih SMP. Pada 27 oktober 2007, gereja dibangun dengan beton dan dana dari swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah.
”Gereja memiliki 300 kursi dengan jumlah jemaat 180 jiwa,” kata Wakil Bupati Agustinus Sukiman, saat memberikan kata sambutannya.
Dia berkata, pada 1998, saat Cornelis masih menjadi camat, pernah mengatakan ingin menjadi Gubernur Kalbar.
Saat itu kami bertanya, ”Mungkinkah Pipit menjadi Enggang? Seorang Camat ingin menjadi Gubernur,” kata Sukiman.
Nah, saat ini, Cornelis kembali lagi ke sana, dan sudah menjadi Gubernur Kalbar. Perkataan Wakil Bupati Landak disambut tepuk tangan jemaat yang hadir.
Read More...
Oleh: Yohanes Supriyadi
Hampir 5 jam, saya memberi ceramah kepada para pendeta, penginjil, tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dari belasan kampung asal Kabupaten
Bengkayang dan Kota Singkawang. Mereka 40-an orang. Mereka mayoritas orang
Dayak, tetapi beberapa diantaranya non Dayak. Oleh panitia, saya diberi
tugas untuk menjelaskan filosofi hidup Orang Dayak dalam kerangka
membangun sikap inklusif ditengah-tengah perkembangan zaman sekarang ini.
Awalnya, memang saya agak ragu untuk menjelaskan topik ini, maklumlah,
para peserta umumnya para “ahli” teologi Kristen. Syukurlah, bersama saya,
hadir juga seorang ahli Dayak Selako, dari Kota Singkawang, Simon Takdir,
MA. Berdua Simon, saya mulai sesi dengan mengajak peserta nonton film
dokumenter “Dayak Tempoe Doeloe” yang berhasil dibuat oleh seorang
misionaris ditahun 1940-an. 45 menit waktu tersedia untuk menonton film
yang luar biasa ini, sebuah film yang mengisahkan budaya, filosofi,
kehidupan sehari-hari orang Dayak dimasa itu, masa dimana belum ada
ekspansi perkebunan, eksploitasi hutan, pengkaplingan tanah, perusakan
sungai, transmigrasi dari pulau lain dan perdagangan antar negara. Mereka
hidup dalam kedamaian, kerja keras, solidaritas sosial yang tinggi,
tinggal dirumah panjang, bebas dan aman menyelenggarakan ritual
tradisionalnya sebuah masa yang menurut saya penuh solidaritas, damai dan
mandiri.
Dari kejauhan, saya melihat decak kagum pada wajah-wajah peserta. Serius,
terkadang tergelak. Mereka kagum dengan keindahan masa lalu. Kagum akan
keagungan leluhur, kagum akan solidaritas sosial, kagum akan betapa
mulianya hati mereka memandang dirinya, orang lain, sang pencipta dan alam
semesta. Semuanya seakan telah membentuk sebuah sistem sosio-magis yang
mampu menopang masa depan Kalimantan. Tetapi itu 60 tahun lalu, he....
Pada sesi kedua, saya mengajak peserta untuk mengeksplorasi Orang Dayak
dimasa kini. Sebuah bangsa di Kalimantan yang mengalami berbagai pengaruh
global; dari pengaruh India, Islam, Kristen, Cina hingga Jawa.
Peristiwanya terjadi sejak abad ke-1. Warisan-warisan dari berbagai
pengaruh ini masih tampak; agama, ritual, situs-situs, bahasa hingga
perilaku sosial. Dari abad pertama masehi, pengaruh Hindu demikian kuat
dikalangan Dayak. Mereka mengenal kasta-kasta, terutama diperhuluan
kapuas. Sifat egaliter pada Orang Dayak menjadi berkurang karena pengaruh
ini. Kerajaan-kerajaan Hindu berdiri, dan memantapkan kekuasaan di kalangan
Dayak yang masih tersisa kini; temenggung, patih, mangku, jubata/dewata,
sesajian dalam ritual adat, dll. Banyak Orang Dayak menjadi Hinduis.
Beberapa ratus tahun kemudian, pengaruh Islam masuk. Kerajaan Hindu
berhasil terkonversi menjadi Kerajaan Islam, ini terutama di kawasan
pesisir; Sukadana, Matan, Simpang, Kubu, Pontianak, Landak, Mempawah,
Sambas. Perkawinan silang menjadi pola dalam konversi ini, termasuk
melalui jasa perdagangan. Orang Dayak juga mulai masuk Islam, sebagian
besar menyingkir ke pedalaman. Kesultanan Islam mengundang Cina dari Brunei
untuk menambang emas di Mandor (Kesultanan Mempawah) dan Monterado
(Kesultanan Sambas), dari sepuluh orang menjadi ratusan orang, bahkan
dalam kurun waktu 30 tahun, menjadi ratusan ribu orang. Populasi yang
besar, menjaga hubungan keluarga/klan, keamanan dan sumber emas yang
melimpah memotivasi Cina untuk bersekutu; mereka membentuk Kongsi. Ada 2
kongsi besar dan kuat, Mandor dan Monterado. Sistem pemerintahan Kongsi
ini mirip “pemerintahan republik”, sehingga banyak penulis barat
mengatakan seakan-akan ada republik di Borneo, kekuasaan kongsi ini cukup
lama, ratusan tahun. Kekuasaan Kongsi Cina yang lama juga berimbas pada
tatanan hidup orang Dayak. Terjadi inkulturasi adat, kebiasaan-kebiasaan
baru. Salah satunya yang paling berpengaruh dan terasa hingga hari ini
adalah; pesta-pesta, arak, judi. Bahkan dalam seorang Cina ditokohkan
Dayak sebagai salah seorang dewa; Nek Bancina Tanyukng Bunga (Nek Bancina
dari Tanjung Bunga, kawasan Pasir Panjang Kota Singkawang sekarang).
Perkawinan silang juga terjadi antara Cina dan Dayak, banyak orang Dayak
yang menjadi Cina dan sebaliknya, tergantung ia tinggal dikomunitas siapa.
Kuatnya Kongsi menjadi ancaman baru bagi Kesultanan Islam, terutama di
Sambas dan Mempawah. Peperangan demi peperangan terjadi, hasil akhirnya,
Kesultanan mengundang Kolonial Belanda untuk datang membantu dengan
beragam perjanjian. Beberapa Kesultanan terjebak dan akhirnya menundukan
diri pada Kolonial. Awal abad 19, dua Kongsi (Mandor dan Monterado)
berhasil ditaklukan Belanda dan dibubarkan secara resmi. Pembubaran Kongsi
menghancurkan kekuatan Cina, sebagian lari kepedalaman dan bergabung
dengan Dayak dan sebagian lari ke Singapura.
Untuk kepentingan administrasi kependudukan, pemerintah Kolonial melakukan
sensus penduduk. Hasilnya, penduduk non muslim dikategorikan sebagai suku
Dayak dan penduduk muslim disebutnya sebagai suku Melayu. Sebuah rekayasa
politik identitas dimulai, dan berhasil hingga hari ini. Melayu banyak
yang menjadi pegawai pemerintah kolonial, Dayak tetap sebagai pembayar
pajak berganda (balasteng). Dari segi pendidikan, Melayu lebih diutamakan
karena relasi yang amat baik dan mudah. Pada taraf tertentu, demikian juga
Cina. Untuk menghindarkan diri dari pajak berganda dan menaikan martabat
dan derajat, Orang Dayak memilih menjadi Islam dan kemudian menyebut diri
sebagai Melayu. Dikalangan Orang Dayak, mereka yang berkonversi ini
disebutnya Senganan, Urakng Laut, dll. Tetapi, pan islamisme makin merebak
di tanah air; Perang Aceh, Perang Padri di Minangkabau, dan sebagian besar
tanah Jawa. Belanda terdesak oleh gerakan ini.
Di Kalimantan Barat, gerakan ini juga meluas hingga dipedalaman, utamanya
dikampung-kampung sepanjang sungai kapuas. Belanda kemudian mengizinkan
Misionaris Katolik dan Zending Protestan masuk di Kalbar. Misi awalnya
membangun gereja di Sejiram, Kapuas Hulu. Sebuah sekolah juga didirikan.
Namun, gerakan pan islamisme semakin meluas di kawasan utara. Pihak misi
mendirikan sekolah dan gereja tak jauh dari Singkawang, Nyarumkop. Rumah
sakit juga didirikan, di Singkawang, dan Sei Jawi Pontianak. Para zending
juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit di Serukam, Bengkayang.
Hasilnya, Orang Dayak mulai memeluk Katolik dan Kristen dan bersekolah.
Selang 30 tahun pasca pendirian sekolah-sekolah ini, orang Dayak
berpendidikan mula sadar. Perjuangan bukan saja melalui pendidikan, tetapi
juga ekonomi dan politik. Beberapa koperasi didirikan, sebuah partai
politik dideklarasikan. Hasil akhirnya, orang Dayak mulai bisa menjadi
pegawai pemerintah, kepala daerah dan legislatif. Inilah periode pertama
kebangkitan Dayak, demikian Kristianus Atok mengungkap.
Kini, menurut Pak Teni, tokoh Katolik dari Samalantan, keadaan berubah
drastis. Orang Dayak merasa tidak aman dirumah sendiri; takut dengan masa
depan. Eksploitasi hutan begitu masif, pengkaplingan tanah untuk kawasan
perkebunan, pertambangan, perumahan terjadi disetiap sudut kampung.
Pemindahan penduduk dari luar pulau terjadi setiap hari, baik legal maupun
ilegal.
Hiburan malam terjadi setiap minggu, apalagi menjelang musim pesta
padi dan ujian akhir nasional (UAN) yang berpengaruh pada kualitas,
perilaku anak-anak dan remaja Dayak. Lain lagi dengan Pak Titus Tumba,
asal Mandung Tarusan. Ia menyorot perkawinan campur yang terjadi pada
gadis-gadis Dayak dikampung-kampung. Mereka menjadi “pindah suku” karena
konversi agama. “Saya takut, nanti Orang Dayak akan hilang” ujarnya
setengah berbisik. Saya terkejut. Tak jauh dari Pak Titus, seorang pemuda
Dayak juga bicara. Beberapa fakta terungkap, beberapa cerita menguap.
Salah satunya, Dayak mulai kehilangan situs-situs asli sebagai simbol
peradaban masa lalu. Pak Erdi, dari Serukam menjelaskan bahwa banyak
tempat keramat Dayak menjadi hilang, rusak dan ditinggalkan masyarakat
adat. “ini semua karena doktrin agama dan doktrin modernisasi, semua yang
berbau tradisional dianggap tahyul, kuno, primitif dan ketinggalan zaman”
katanya. Sorot matanya menyempit, ia sedih.
Bukti-bukti diatas, kiranya dapat menggambarkan inklusifisme Dayak. Sebuah
sikap yang mudah “beradaptasi” dengan perkembangan, pengaruh global.
Sebuah sikap yang menjadi ancaman dimasa depan,sekaligus peluang dimasa
kini. Kalau dikelola baik ia akan menjadi peluang masa depan, namun bila
tak dikelola secara baik, ia hanya akan menjadi ancaman bagi eksistensi
Dayak.
