Kesempatan Ikuti Pelatihan Narrative Reporting
Johan Wahyudi
Borneo Tribune, Pontianak
Pukul 15.00, Minggu (9/11), aku lagi asyik nonton televisi. HP di atas meja komputer berbunyi. Aku beranjak mengambil HP. Panggilan dari Pimpinan Redaksi Harian Borneo Tribune, Nur Iskandar, tepat aku bekerja.
“Assalammulaikum Joe. Sudah tahu belum? Besok ikut pelatihan Narrative Reporting?” tanyanya.
“Belum bang. Jam berapa pelaksanaannya?” Aku kembali bertanya.
Ini kesempatan baik, menambah kemampuan dan pengetahuan jurnalisku, gumanku dalam hati.
“Jam 08.00 pagi, sudah harus berada di Hotel Peony.”
“Siap bang.”
Usai menerima telepon, Aku memberitahu istriku, Emelia Rosa. Kebertulan, ia sedang menggendong anakku tercinta, Abhinaya Zaidan, yang baru berumur empat bulan setengah. Bahwa, besok pagi aku harus ke Pontianak, mengikuti pelatihan Narrative Reporting.
”Ikut saja pak, mumpung ada kesempatan,” ucap istriku.
Narative Reporting, langsung mengingatkanku pada Andreas Harsono. Nama yang sering disebut Pimred dan redaktur Harian Borneo Tribune, serta teman seperjuanganku, Mujidi, Kepala Biro Harian Borneo Tribune di Kota Singkawang.
Andreas Harsono, wartawan professional. Dia pernah bekerja untuk harian The Nation (Bangkok). Associated Press Television (Hongkong). The Star (Kuala Lumpur). Dan, majalah Kajian dan Jurnalisme Pantau.
Ia mendapatkan Nieman Fellowship on Jorunalisme dari Universitas Harvard, pada Juli 1999-2000. Dia menulis banyak artikel yang menarik. Salah satunya, tulisan berjudul ”Panasnya Pontianak, Panasnya Politik”.
Kini, ia sedang menulis buku From Sabang to Merauke, Debunking the Myth of Indonesia. Dialah yang dipastikan menjadi instrukstur pelatihan Narrative Reporting kali ini.
Selepas menerima telepon, aku langsung mengaktifkan komputer. Membuka jaringan internet. Lalu kucari alamat blog, Andreas Harsono. Aku baca beberapa artikel dan tulisan di sana. Tentunya, sambil mempelajari karya penulisan Narrative Reporting. Gaya dan modelnya.
Senin (10/11), pukul 05.00 Wib, aku telah menyiapkan segala perlengkapan pelatihan. Ada buku catatan, bolpoint, kamera, tape recorder, pakaian, perlengkapan mandi, dan tak lupa minyak wangi. Semuanya aku masukan dalam tas. Tidak lupa, aku membawa tas kecil yang selalu menemaniku liputan.
Sebelum berangkat, aku terlebih dahulu pamitan dengan ibu mertua, serta istriku. Tidak lupa, aku mencium pipi anakku tercinta yang berada di pelukan ibunya.
”Hati-hati di jalan, Pak, bawa motor jangan ngebut,” kata istriku, berpesan.
”Iya, Mak. Bapak pergi dulu,” sambil ia mencium tangaku.
Aku bersama sepeda motorku, meninggalkan halaman rumah. Dalam perjalanan menuju ke Pontianak, ada sesuatu yang selalu kupikirkan. Menulis kehidupan masyarakat Desa Peniraman, dan cerita tentang ibuku.
”Aku ingin menulis panjang. Pelatihan ini, mungkin kesempatan untuk bisa menulis panjang,” gumanku.
Sekitar pukul 08.00 Wib, aku sudah berada di depan Hotel Peony, di Jalan Gajah Mada, Pontianak. Sepeda motorku langsung aku parkir di garansi Hotel Peony.
”Maaf bang. Di mana tempat pelatihan Narrative Reporting?” kataku pada Satpam, yang menjaga pintu hotel.
”Di lantai lima, silakan masuk,” jawabnya ramah.
Aku bergegas menuju pintu lift. Namun, lift hanya sampai di lantai empat. Menuju lantai lima, harus menaiki anak tangga. Di lantai lima, sudah ada Jumi Erlina Sari, Sekretaris Redaksi Harian Borneo Tribune. Atika Ramadhani, Staf Pracetak Harian Borneo Tribune. Keduanya bertugas mendaftar para peserta pelatihan.
”Embak Lin, sudah ada peserta yang datang?” tanyaku.
”Belum, baru kamu yang datang,” jawabnya.
Kulihat daftar hadir masih kosong. Aku duduk di kursi sofa pengunjung hotel, menunggu kehadiran peserta lain. Tak lama, Mering muncul. Dia langsung ke ruang workshop pelatihan Narrative Reproting. Di ruang workshop, ada 20 kursi disusun berbetuk setengah lingkaran. Mering bersama petugas hotel, sibuk mempersiapkan segala perlengkapan pelatihan. Seperti, infokus, serta spanduk bertulisan ”Narrative Reporting untuk Pontianak.”
Pelatihanan dimulai pukul 09.00 Wib. Namun, sebelum pelatihan, aku sempat keluar hotel bersama, Tun-Tun dan Jon Pantau yang baru aku kenal. Kami minum kopi susu di warung kopi seberang Hotel Peony. Tak lama berselang, aku ditelepon Andry, temanku di Harian Borneo Tribune.
“Kau di mana Joe? Acara sudah dimulai.”
“Aku di warung kopi. Oke, aku ke sana.”
Aku dan Tun-Tun, langsung meninggalkan warung kopi bergegas ke Hotel Peony. Jon Pantau tetap di warung kopi, karena berencana pulang ke Sanggau.
Pintu tempat workshop pelatihan Narrative Reporting, pintunya tertutup. Kami berdua masuk. Acara sudah dimulai. Andreas Harsono duduk santai menghadap peserta. Yang menarik dan membuat warna tersendiri, dalam pelatihan tersebut, ada tiga mahasiswa/wi dari Bonn University, Jerman. Namanya, Dorina, Sina dan Mathias.
Walaupun ketiganya tidak lancar berbahasa Indonesia, tetapi mereka terlihat bersemangat. Peserta dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa, LSM, wartawan dan redaktur, sampai ibu rumah tangga. Acara dibuka langsung Direktur Utama Harian Borneo Tribune, W. Suwito.
Dalam pelatihan, kami dibekali buku pegangan selama pelatihan. Judulnya, Jurnalis Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Ada beberapa penulis. Ada juga buku, Seandainya Saya Wartawan Tempo, terbitan PDAT. Sembilan Elemen Juranlisme oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Satu buku lagi, Hiroshima oleh Jhon Hersey.□
Label: Hiburan
Taekwondo Kalbar pada PON 2012 di Riau ditargetkan harus bisa mendapatkan medali emas, dan saat ini kita telah merancang program kerja untuk lima tahun kedepan, yang mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Hal ini ditegaskan Ketua Pengurus Besar Taekwondo Kalbar W.Suwito usai rapat pleno pertama Pengprov TI Kalbar dengan agenda silahturahmi dan halal bihalal di Hotel Peony Pontianak, Sabtu (15/11).
Sebelumnya telah dilakukan pelantikan terhadap Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia Kalbar masa bhakti 2008-2012, pada tanggal 26 agustus lalu di Bali, bersama dengan Pengprov NTB, Bengkulu, dan Lampung yang dilantik langsung Ketua Umum Pengurus Besar Taekwono Indonesia oleh bapak Letjen Purnawirawan Erwin Sujono.
Pengprov Kalbar sendiri diwakili oleh Ketua Pengurus Besar Taekwondo Kalbar W.Suwito, Sekretaris Umum Agustinus Ambo Mangan, dan Walik Ketua Bidang Organisasi Rusli, yang dilanjutkan dengan Diklat dan penyegaran Wasit untuk angkatan yang ke-9.
Menurut Sekretaris Umum Agustinus Ambo Mangan saat ini prestasi tertinggi Taekwondo Kalbar pada PON Kaltim kemarin baru Medali Perunggu atas nama Uli Arsad untuk kelas berat.
“Perkembangan Takwondo di Pontianak saja saat ini sudah ada ratusan atlit yang aktif dengan puluhan tempat latihan dan untuk kabupaten dan kota saat ini juga telah ada Pengurus Cabang Taekwondo Kalbar di setiap Kabupaten dan kota, dan kita akan lakukan Konsulidasi dan penyegaran”,Ungkap Agustinus Ambo Mangan yang juga sebagai koordinator Wasit Taekwondo Nasional Kalbar ini.
Kita juga ingin membuat satu program dan sistem yang baku yang akan dimulai dengan pembenahan sabuk, sertifikat atlit, kemudian masalah ujian kenaikan tingkat, selain itu kita juga akan mengirim pelatih-pelatih yang berkualitas untuk penataran pelatih dan wasit tingkat Nasional katanya.□
Label: News
By Dorina Luise Schulte
I am sitting outside on a wooden chair in front of the house, watching at all the plants and trees in the garden. It is already dark, but the lamp under the ceiling spends me light and let me see the fresh dark green trees.
Trees with big leafs, like a loaf of bread and leafs which are smaller than thumbnails. The grass is still wet from the last rain. And the raindrops are blinking like silver token in the light.
The flowers have a shining yellow-some of them are already fallen to the stony ground. Ants are running as fast as they can between the stones. The air is fresh. The sky has a beautiful dark blue, almost black. There are some fluffy clouds in the sky, but also some tiny, shining stars. Kids are still playing in the light of the lamp in the small street and laughing.
Sometimes a motorcycle is crossing the street. The noise of the motor interrupts the silence for a few seconds. Then hear the voice of the muazin. His dark voice calls the Muslims to pray the magrib. I stop writing and listen to the melodic tones. It makes me thinking about a book I just read. After fifteen minutes, he is finish and I am back in the garden with my thoughts.
A black and a white cat are playing with each other on the grass. They do not pay attention at me. It seems like I am not there. Geckos are running up the wall of the house very fast. Mosquito's flying around me, just waiting until they can bite me. I feel calm and glad to be outside. Very fare away there is a noise. I can't exactly identify what it is. Maybe it is the noise of an air conditioner.
When I look above me I can see the mosquito's dancing in the ray of light. The geckos are sitting close to the lamp, waiting until the mosquito's landing, so they can catch them with their white, sticky tongue. It is the silence which makes me happy and the beautiful nature with all their animals makes me calm.
Label: Hiburan
Oleh: Anna Lisa Pramajanti
Aku selalu kagum dan takjub dengan cerita-cerita yang dituturkan ibuku. Kisah-kisah petualangannya di usia sekolah, saat mengungsi ke hutan di jaman pendudukan Jepang, bekerja sebagai guru di pedalaman Kalimantan Barat, saat pertemuannya dengan pria yang menjadi ayahku, dan suka dukanya setelah menjadi istri tentara dan menjadi ibu bagi kami anak-anaknya.
Ibuku berperawakan sedang. Dilahirkan sebagai sulung dari sembilan bersaudara, Ibuku termasuk mungil mengingat semua saudaranya yang laki-laki dan perempuan berpostur badan di atas 170 cm. Nenek moyangnya merupakan orang Khek dari Provinsi Guangdong.
Kakek dari kakeknya perantau dari Tiongkok. Kakek buyut dari pihak ibunya bernama Chin Lin Long masuk ke Kalimantan Barat lewat Sarawak. Sudah lima generasi merambah dan mengakar di bumi khatulistiwa ini. Klan keluarganya dari pihak ayahnya yang bermarga Deng bahkan dikenal pemilik perusahaan Kong Nyan Sun yang bergerak di bidang kontraktor yang membangun jembatan, kapal, dan pabrik kayu.
Kulit ibu berwarna kuning terang, khas Mongoloid. Wajahnya oval dengan tulang pipi tinggi. Alisnya melengkung membentuk busur menaungi matanya yang besar bulat. Jika diamati, alis kanannya terlihat terputus di bagian tengah. Ada bekas luka membujur dari dahi hingga alisnya. Sesekali bila kuraba bekas luka ini saat aku merapikan bulu alisnya, ibu mengulang kisahnya.
Luka itu didapatnya dari istri paman jauhnya yang kalap mengira ibu telah memaki anaknya. Ibuku yang saat itu tengah menjahit baju dan tidak tahu menahu perkara dihajar dengan sebilah kayu di wajahnya. Pukulan itu semestinya ditujukan pada tanteku. Adik perempuan ibu yang sudah berulah. Bukan ibu bila dia diam saja menerima perlakuan tak beradab ini.
Merasa tidak bersalah, sambil menyeka darah segar yang mengucur dari jidatnya, ibu langsung meraih gunting berujung tajam dan menguber orang yang melukainya. Entah apa jadinya bila orang itu tak segera menutup rapat-rapat pintu rumahnya. Sungguh miris.
Sepintas lalu paras wajah ibu seperti wanita paruh baya lainnya. Rambutnya yang memutih disamarkan dengan pewarna rambut coklat kemerahan. Gelombang-gelombang yang dihasilkan dari keriting di salon menutupi kulit kepala yang mulai ditinggalkan helaian rambutnya. Di antara kedua alis terbentuk tiga guratan yang dalam. Kelopak mata mengendur dan membentuk lipatan menggantung, pipi yang tak lagi kencang, leher menggelambir, dan lekuk mendalam di sudut-sudut bibirnya.
Hidungnya lurus walau tak bisa dikategorikan mancung. Bibirnya sempurna dengan garis tegas di sekelilingnya. Dari tahun ke tahun semakin banyak kerutan di keningnya. ”Jalur kereta api,” begitu ujarnya.
Walaupun telah dimakan usia, raut wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kecantikan. Kecantikan yang pernah menjadi buah bibir di kalangan pemuda-pemuda dan pengusaha lajang yang naksir ibu semasa gadisnya.
Di usianya yang ke 73, Ibuku masih menunjukkan daya ingat yang baik. Di luar tanggal kelahiran ketujuh anak yang dilahirkannya, ia mampu menyebutkan nama tempat, waktu dan peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Mungkin sebagian orang akan mengira dia hanya sekedar mengambil moment atau tanggal tertentu. Paling mudah adalah memintanya bercerita kembali di lain waktu.
Pernah aku mendengarnya bercerita tentang masuknya bala tentara Jepang ke Pontianak. Giliran aku yang tercengang. Ibuku konsisten dengan memorinya. Pesawat-pesawat angkatan laut Jepang menghujani peluru menyapu apapun yang dilintasnyai. Bom pertama jatuh di lokasi yang kini dikenal sebagai Jalan Antasari. Hari itu, 27 Desember 1942, jam 2 siang. Hari yang mengubah masa kecil ibuku dan anak-anak lainnya. Mereka digiring memasuki lembar kehidupan yang kelabu beserta keluarga mereka. Babak hidup yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak juga oleh penduduk dan kaum cerdik pandai Kalimantan Barat yang dibantai dan dirampok oleh mereka yang menyebut dirinya Saudara Tua bangsa ini.
Ibu adalah pencerita yang ekspresif. Mimik wajahnya berubah-ubah seiring jalannya cerita. Nada bertutur pun berselang seling dari intonasi rendah ke tinggi, kadang terdengar memelas, merintih, menyentak, dan di saat lain mendikte seperti maharani bertitah pada pelayan-pelayannya.
Aku paling suka mendengar ibu mengisahkan dirinya sebagai sprinter. Bola matanya, yang kini mulai disinggahi katarak, berbinar saat menggambarkan kemenangan demi kemenangan yang diraihnya dari berbagai cabang olahraga yang dilombakan. Selain cemerlang di kelas dan menjadi murid kesayangan guru-gurunya, ibu juga jadi andalan di lapangan olahraga baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah dasar dan menengah di jamannya.
Saat mendeskripsikan diri sebagai atlet lari, matanya mulai memicing dan alis pun bertaut. Bibirnya mengkerut, meruncing meloloskan udara seperti orang kepedasan makan sambal. Ada suara mendesis keluar dari mulutnya. Lomba lari yang sengit. Lagi-lagi ia mencapai finish duluan. Cuping hidungnya kembang kempis saking bangganya. Itu artinya tak perlu membeli buku tulis dan pensil selama satu semester atau bisa membagi-bagikan masing-masing sepasang kaos kaki putih pada adik-adiknya. Perasaan sayang terkandung dalam suaranya. Dan ibu akan menutup kisahnya dengan senyum di bibirnya.□
Label: Hiburan
Oleh Sina Waidelich
Di dekat rumah Nuris (di mana saya tinggal sepanjang saya di Pontianak) ada sebuah pojok di mana jalan besar berakhir. Di akhir jalan itu ada jalan kecil yang menyilangkan membentuk sebuah T dengan jalan besar, jalan kecil itu dari beton dan lebarnya kira-kira 130cm. Di belakang jalan kecil ada sungai kecil berwarna campuran coklat merah. Sepanjang sungai kecil tumbuh banyak tumbuhan berbeda-beda, ada pohon-pohon rambutan dan banyak sejenis pohon yang lain, dengan daun panjang, dengan daun pendek, dengan daun besar dan dengan daun kecil. Juga ada banyak pohon pisang, kelapa, pisang kipas, bunga-bunga berwarna berbeda-beda, rumput, dan banyak tumbuhan berbeda-beda yang lain. Kelihatan kebunan itu hampir seperti suasana di pedesaan.
Di pojok kanan jalan kecil itu ada pohon setinggi kira-kira delapan meter. Batang pohon itu berbintik abu-abu, sedikit hijau, coklat, hitam, putih dan batangnya 25cm. Di ketinggian kira-kira 140cm terdapat dahan. Lalu ada daun-daun hijau tua yang menumbuh keluar dari cabang pohon lebih kecil. Cabang pohon itu keluar dari cabang pohon besar berbentuk gabung dan cabang pohon tipis berwarna merah. Daun-daun lebih mudah berwarna hijau muda. Daunnya memanjang.
Air hujan membahasi tumbuhan itu. Kemarin kira-kira jam enam kurang 20 menit, terjadi hujan. Lebat. Hujan berhenti kira-kira jam lima.
Matahari sekali lagi keluar/terbit sedikit. Langit sekali lagi biru dengan awan memanjang berwarna abu-abu, merah jambu, jingga, dan kadang-kadang hampir ungu. Suasana indah sekali.
Hujan membuat lingkungan kelihatan segar dan bersih, seperti baru tercuci. Warna-warna keras dan bercahaya. Semua kelihatan intensif karena basah dan berkilau dari sinar matahari terakhir hari itu. Di mana-mana adalah genangan air.
Ada banyak suara berbeda-beda, misalnya dari binatang berbeda-beda, dari kucing, dari burung-burung, dari kebanyakan serangga dan lain-lain.
Di sekeliling sebuah kuntum pisang di samping pohon yang sudah digambarkan oleh saya, ada dua kupu-kupu berwarna hitam dan biru yang berkepak-kepak dengan kelihatan lucu dan senang.
Udara segar, lembap dan sangat menyenangkan. Saya merasa disegarkan dan senang sekali, selain dari sejumlah gigitan nyamuk yang membuat saya merasa gatal.:).
Saat itu saya bahagia! Kehidupan dan dunia kita menjadi sangat secara damai dan indah. Saya senang sekali ada di Pontianak!
Suasana terasa makin sempurna ketika saya dengar suara Muazin menyanyi.
Label: Hiburan
Oleh: Dwi Syafriyanti
Nonton film Mr.Bond. Mobil Avanza merah bernomor polisi KB 51 TI ini bergerak keluar dari pelataran parkir mal A.Yani. Malam itu hampir pukul 22.00'WIB.
Aku, Catur --adikku, Mbak Andi serta ketiga mahasiswa Bonn University Dorina, Sina dan Mathias masih asik berdiskusi soal film James Bond yang baru saja kami saksikan. Nur Is sang pemilik mobil menyerahkan 2 lembar uang ribuan pada seorang petugas parkir. Tak lama portal yang menghadang tepat di depan mobil yang kami tumpangi tersebut terbuka lebar.
Hiruk pikuk serta lalu lalang kendaraan di jalur utama kota Pontianak yang berada tepat di depan mal terbesar di Pontianak tersebut menyambut kami, dalam hitungan detik kami sudah menjadi bagian dalam keramaian kota di malam Sabtu itu.
Mendahulukan film kesayangan yang diputar pada pukul 18.45 wib itu, membuat kami semua menunda makan malam.
Sekarang waktunya. Kami memenuhi panggilan alam dengan rasa lapar yang tidak dapat ditunda lagi.
Bebek, oh bebek.
Biasanya warung itu mangkal tepat Jalan Suprapto, di depan sebuah rumah mewah milik mantan pejabat yang sudah tidak terawat.
Makan di warung bertenda tepat di sebagian halaman rumah mewah tak terurus itu terasa begitu nikmat. Menu andalan di sini –waktu itu, aneka. pecel; ada pecel lele, pecel burung, pecel ayam pecel bebek dan soto yang sangat `maknyus' rasanya, dan tidak jarang warung itu menjadi tempat lahirnya ide-ide aku dan sahabat-sahabatku yang biasa menjadikannya tempat diskusi dalam soal apapun --terutama soal koran kami dan kegiatan-kegiatan Tribune Institute, sampai tengah malam.
Tapi dalam beberapa bulan ini warung itu tiba-tiba menghilang...
Akhirnya..
Saya dan Nur Is berdiskusi soal di mana kami akan makan. Seperti biasa, sekalipun warung pecal lele yang menjadi langganan kami dalam beberapa bulan ini menghilang, kami tetap pada tujuan. Warung itu.
Kami bisa saja menemukan warung pecel lele yang lain, tapi dengan alasan terlanjur jatuh cinta, kami mau warung pecel lele itu. Dengan rasa penasaran sekaligus kerinduan pada bebek goreng favoritku itu kami menyusuri jalan tempat di mana warung pecel lele itu mangkal. Mobil yang dikemudikan Nur Is bergerak lamban, dan kami belum menemukannya.
"Lihat itu di belakang ada warung pecel lele.”
Catur memecah kebingungan kami semua.
Akhirnya, pencarian itu membuahkan hasil. Warung pecel lele itu dapat kutemukan. Pemiliknya sama.
Warung itu masih di kawasan yang sama, tapi berjarak hampir 300 meter ke arah timur dari tempat sebelumnya. Berada di depan tanah kosong, di samping rumah mewah berwarna kuning.
Sang pemilik warung beserta anak buahnya tersenyum manis pada kami. Dia kenal. Aku, Catur dan Nur Is adalah langganan setia.
"Ini malam pertama kami buka kembali Mbak".
"Kenapa pindah?" tanyaku.
"Rumah di situ sudah dikontrak orang Mbak".
Senyunn manis sang pemilik warung, tak dapat menyembunyikan kegetiran bahwa dia baru saja kehilangan tempat mangkal yang sudah dikunjungi banyak pelanggan sebelumnya itu.
Dia tahu diri halaman rumah mewah itu bukan miliknya, sewaktu-waktu dia harus pergi.
Kami makan.
Aku melepas kerinduanku pada pecel bebek dan membebaskan kami semua dari rasa lapar.
Malam makin larut, mungkin kurang dari setengah jam waktu eksekusinya Amrozi Cs, malam itu. -- 00.15.
Kami pun bergegas pulang ke rumah untuk beristirahat.
Di perjalanan aku bertanya dalam hati. Akan kucari kemanakah lagi warung pecel itu bila sewaktu-waktu pemilik tanah memanfaatkan miliknya karena warung itu berdiri di pinggir jalan tepat di depan tanah kosong dan di samping rumah mewah berwarna kuning itu.
Aku berpikir, andai James Bond sempat mencicipi bebek goreng favoritku itu, dia akan senang hati datang dari London sana untuk membantuku menyelidiki "hilangnya warung bebek gorengku....".
Label: Hiburan
Oleh: Anna Lisa Pramajanti
Mendung masih bergelayut di atas kota. Hujan gerimis di Gajah Mada, kering di Purnama. Menyisakan lembab di udara. Eka adik iparku memarkir kendaraan yang kutumpangi di garasi belakang rumah.
Sepintas kulihat dua gelas berisi kopi. Keduanya bekas diminum. Salah satu gelas hanya menyisakan ampas seperti lumpur hitam di dasarnya. Di sampingnya masih ada dua gelas kosong berjejer dengan pitcher berisi air putih.
Seingatku Aleng, si tukang, izin tak masuk hari ini. Ia mengantar anaknya berobat ke rumah sakit.
"Siapa yang nukang hari ini, Miih?" tanyaku pada ibuku.
Ia tak segera menyahut. Telunjuk tangannya sedang mengarahkan Leni. Lantai ubin samping tangga disodok-sodok tongkat pel. Dengan patuh gadis berseragam putih babysitter itu mengikuti instruksi ibu.
"Akhim tukang kaca. Lagi pasang kaca di jendela ruang cuci,"
"Kan sudah ada kacanya?!"
"Suamimu yang suruh ganti. Batalkan saja, ya? Ini sudah kaca yang kedua..."
Dari ruang kantor suamiku, muncul Akhim. Tubuhnya tipis dan potongan rambutnya a la Vanness Wu, anggota boyband F4 asal Taiwan. Bersamanya seorang pria tambun berkulit coklat gelap. Mungkin asistennya. Mereka membawa sepotong kaca 8 mm kebiru-biruan. Kaca itu tingginya separuh orang dewasa dengan lebar sebahu. Di tengah-tengah kaca terdapat alat yang berfungsi menahan kaca, gagang stainless steel berkaki empat berupa lempengan karet kedap udara. Mereka memegang gagang bersamaan, sedangkan tangan lainnya meraih bibir-bibir kaca. Mirip cecak kembar siam nempel di jendela.
Ibu memberi isyarat agar aku ikut ke kamarnya.
Rupanya tadi kaca sudah sempat dipasang. Saat Akhim menekuk bingkai aluminum jendela, kaca terlepas, terjun bebas mencium bordes, anak tangga dan railing besi.
"Praannnng Bruuuk....Cesss...."
Menggelegar.
Serpihannya sampai Iantai dasar.
"Amah, Ammaaa...h!!” lolong Akhim,
"Tanganku luka, Maah!"
Meski belum pulih dari rasa kagetnya, ibu tergopoh-gopoh memetik 3 lembar daun cocor bebek dari kebun belakang rumah. Dicuci,ditumbuk,dan ditempelkannya pada luka memanjang yang cukup dalam di tangan kanan pemuda itu.
"Tadi tak ada perban."
"Lalu?"
"Ya, kubalut saja dengan potongan softexmu..."
Label: Hiburan
Forum Tribune-Plex dipimpin W Suwito, SH, MH dalam sebuah meeting di Dapur Redaksi Borneo Tribune. FOTO Dok/Borneo Tribune
Bermula dari Ketiadaan Menuju Tribune-Plex
Semangat. Tidak ada satu kekuatan yang bisa mengalahkan semangat. Hal itulah yang terasa dari penyelenggaraan Kursus Narative Reporting yang diselenggarakan 10-14 November di The Roof Café Hotel Peony.
Dari sisi administrasi, peserta, hingga dana, semua dimulai dari tiada. Tetapi semangat melambung tinggi bagaikan mimpi.
Semangat yang menjulang tinggi ibarat mimpi itu oleh koordinator program, Asriyadi Alexander Mering bersama Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti dielaborasi sedemikian rupa ke tingkat konsep jadi. Konsep inilah yang dijalankan sebagai action-plan.
Dream yang menjadi action-plan digali dari semua lini pada pertemuan demi pertemuan. Baik yang non formal, informal, sampai rapat formal yang digelar secara khusus di meja bundar ruang redaksi.
Hasilnya? Blue-print program terbentang panjang. Banyak hal yang dideder dan diramukan. Sebagai contoh visi yang hendak dituju adalah perubahan peradaban dari lisan kepada tulisan. Titik sentuhnya pendidikan.
Kami semua sadar bahwa merubah peradaban itu tidak seperti membalik telapak tangan. Dibutuhkan proses dan semangat tanpa kenal lelah.
Kami sadar visi kami besar. Semua itu ibarat ingin memeluk gunung tapi apa daya tangan tak sampai.
Dengan kesadaran kecilnya tangan-tangan kami sebagai pelaksana, maka hanya kebersamaan yang merupakan kata kunci untuk dilakukan. Bahkan hanya dengan kebersamaan itu kami bisa menggapai mimpi-mimpi.
Sebuah program pendidikan kepenulisan bernama “Narative Reporting untuk Pontianak” yang lebih serius dari yang sudah-sudah sudah pernah kami laksanakan berhasil dicapai dengan target peserta 20 orang. “Tetek bengek” administrasi berjalan sebagaimana mestinya, serta dana yang semula tiada, bisa terpenuhi dengan impas.
Pembaca. Semangat belajar di center of excellent ini menjadi ruh sekaligus jiwa Borneo Tribune Cq Tribune Institute.
Kami semua dengan semangat kebersamaan belajar untuk menyelenggarakan kegiatan dengan standar yang profesional, belajar untuk memberikan service excellent. Kami mohon dukungan agar Tribune-Plex (Tribune Complex, red) bisa benar-benar tumbuh menjadi center of excellent. Pusat keunggulan lokal di Kalbar.
Label: Hiburan
by Andry
Bersetelan safari berwarna merah manggis, Suwito, pria berkumis tebal nan rapi yang juga menjabat sebagai Pembina Yayasan Tribune Institute didaulat memberikan kata sambutan. “Hari ini saya bangga sekali. Bangga karena telah lahir penulis-penulis baru di Kota Pontianak,” kata Suwito sambil melempar senyum.
Selain Pembina Tribune Institute yang sekaligus Direktur Utama PT. Borneo Tribune Press, Suwito juga seorang pengacara handal di Kalimantan Barat. Menurut Suwito Pelatihan Narative Reporting merupakan sesuatu yang sangat positif. Karenanya, ia berharap, dimasa yang akan datang, pelatihan seperti ini dapat kembali dilaksanakan di Pontianak. “Saya berharap dimasa yang akan datang, pelatihan ini dapat kembali dilaksanakan di sini,”.
Sesi penutupan pelatihan Narative Reporting untuk Pontianak dihadiri oleh Pemimpin Redaksi Harian Borneo Tribune, Nur Iskandar dan Dr. Elias Tana Moning, BA. Phil, M. Agr., Ed. D dan sejumlah peserta yang berjumlah 20 orang. Mereka terdiri dari wartawan, aktivis LSM, profesional bahkan ibu rumah tangga.
Usai berbagi cerita tentang alamat situs yang kaya akan ilmu pengetahuan dan informasi tentang menulis, pengampu Andreas Harsono pun menyempatkan diri untuk berpamitan kepada semua peserta pelatihan Narative Reporting untuk Pontianak. ”Saya mohon maaf. Apabila selama mengajar, terdapat kata-kata saya yang menyinggung perasaan maupun menyakitkan hati. Tapi itulah keberanian,” cetus pria berkaca mata ini sembari berpamitan.
Andreas berharap kepada semua peserta agar dapat menyalurkan kemampuan yang telah diraih untuk menulis sebuah buku. Terserah apapun namanya. Yang penting menulis buku.
Sebelumnya, Ketua Panitia pelatihan Narative Reporting untuk Pontianak, Alexander Mering juga menyempatkan diri untuk berpamitan. ”Pokoknya, apa yang saya katakan serupa dengan apa yang dikatakan Andreas Harsono,” katanya disambut dengan riuhnya tawa para peserta.
Setelah itu, Mering mohon izin untuk membacakan suatu puisi yang dibuatnya sejenak sebelum tampil dimuka yang belum sempat diberinya judul.
Periksa satu telinga
Maka kau temukan talas
Mengeras tradisi yang diwariskan lisan
Meluruk menjadi hujan
Dan kemenyan tanpa kipas
Periksa satu telinga
Terngiang-ngiang dalam gantang
Mencari sunyi-sunyi
Semua gambaran hati di tumpukan kertas
Periksa saja telinga
Ada lekuk yang membunuh
Ada doa yang menyembuhkan
Usai membacakan puisi, ternyata seorang peserta asal Germany yang bernama Xena berulang tahun. Dia pun akhirnya didaulat untuk meniup lilin ulang tahun di hadapan semua. Karena Xena lebih menyukai buah-buahan, maka dia diberikan sekeranjang buahan yang beraneka ragam. Setelah itu, kami semua memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Xena. Dan akhirnya acara pun ditutup dengan makan siang bersama.
by Andry
Label: News

Pelantikan organisasi hukum Peradi, berlangsung dengan lancar, Kamis malam di Hotel Orchardz. Pelantikan berupa penyerahan bendera Peradi dari Ketua Dewan Pimpinan Nasional Peradi Pusat, Dr. Otto Hasibuan, SH, MM kepada M. Tamsil Sjoekoer, SH, MH. Pelantikan kemudian berlanjut kepada pelantikan Dewan Kehormatan Peradi Cabang Kalbar.
Otto mengatakan dalam sambutannya bahwa beberapa tahun yang lalu direncanakan untuk membentuk satu organisasi sebagai wadah advokat. Tujuannya agar ada undang-undang advokat, karena selama ini belum ada undang-undang yang mengaturnya. “Penegak hukum yang lain mempunyai undang-undang.”
Akhirnya dibentuklah satu kode etik bersama yang akhirnya mengeluarkan undang-undang advokat. Di dalam undang-undang disebutkan perlu dibentuk suatu wadah. Advokat harus berhimpun dalam suatu wadah yang akhirnya menjadi Peradi (Persatuan advokat Indonesia). Di Jakarta sendiri sudah dilantik sejak tahun 2004 silam.
Ketua Peradi Kalbar, Tamsil Sjoekoer mengatakan bahwa sebenarnya Peradi cabang Kalbar sudah terbentuk, namun barulah setelah Idul Fitri dapat diselenggarakan pelantikannya.
”Pelantikan ini sekaligus acara halal bi halal,” ujarnya.
Ia juga memohon maaf bila ada anggota advokat yang tidak masuk dalam susunan pengurus. Kepengurusan yang dibentuk, menurutnya, sudah cukup merata dengan mengambil tiga atau empat orang pada organisasi bentukan Peradi.
Ucapan terima kasih juga dihaturkan, karena sudah memberi kepercayaan kepada Peradi untuk dapat berbuat dan tetap utuh.
Ia juga menghimbau agar semua rekan advokat dapat memberi bantuan kepada masyarakat sebagai status penegak hukum yang juga dihormati oleh penegak hukum lainnya.
Walikota Pontianak dr. Buchary A. Rahman menyatakan harapannya agar suatu organisasi melaksanakan mandatnya dengan baik. ”Juga harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan anggota Peradi sendiri,” ujarnya.
Selain itu, ia meminta anggota Peradi dapat bertindak profesional dengan memberi manfaat kepada anggota untuk meningkatkan profesionalistasnya.
Peradi diharapkannya juga dapat memberi rasa keadilan, dan rasa kenyamanan dan keamanan Kota Pontianak.
P Rosmala Sitorus, Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Barat pada kesempatan yang sama mempunyai harapan besar kepada Peradi agar membela perkara dengan seadil-adilnya.
”Kalau yang salah harus tetap disebut salah,” tegasnya.
Harapan kepada Peradi juga agar para anggota Peradi tetap bersatu. ”Dengan keberadaan Peradi dapat melakukan penegakan hukum di Kalimantan Barat,” ujarnya.
Label: News

