Sabtu, 01 Mei 2010

Hari Ini Munas I Peradi

Otto: Hitung Kandidat Lain

Oleh: Nur Iskandar

PONTIANAK-Hari ini Kota Pontianak istimewa dibanjiri para advokat seluruh Indonesia. Jumlah mereka tak kurang dari 21.000 orang, namun yang bisa hadir di acara musyawarah nasional (Munas) perdana Peradi diperkirakan 1000 orang.

Hotel Kapuas Palace sebagai tempat Munas telah dibanjiri spanduk dan umbul-umbul ucapan selamat datang. Kontingen dari masing-masing daerah di seluruh Indonesia juga terus berdatangan. “Yang terdaftar sampai saat ini sudah 600-700 orang,” ungkap Ketua Panitia yang juga Ketua DPC Peradi Kalbar, H Tamsil Sjoekoer, SH. Ia memegang pesawat HT (Handy-Talky) dan tampak sibuk menyambut kontingen yang hadir.
Pada ruang lobby, panitia telah menyiapkan “wellcome drink” lidah buaya, guava dan wedang jahe. Di lobby pula terdapat meja registrasi peserta.
Munas I Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) yang diselenggarakan di Kota Pontianak, Jumat (30/4) hari ini tidak hanya hangat suksesi kepemimpinan, tetapi juga hal-hal yang patut direkomendasikan dalam bidang penegakan hukum.
“Di Munas pertama ini selain membahas program kerja, kita akan memilih ketua Dewan Pimpinan Nasional Peradi secara demokratis,” kata Ketua Dewan Pimpinan Nasional Peradi, Dr Otto Hasibuan, SH, MM menjawab wartawan dalam jumpa pers di Kapuas Palace, Kamis (29/4) siang. Dalam jumpa pers itu Otto didampingi Achiel Suyanto yang juga Ketua Organisasi Peradi, Tamsil Sjoekoer Ketua DPC Peradi Kalbar dan W Suwito, SH, MH Sekretaris DPC Peradi Kalbar.
”UU Advokat No. 18 Tahun 2003 tegas menyebutkan Peradi adalah wadah tunggal. Tapi UUD 1945 menyebutkan setiap warga negara Indonesia memiliki kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat. Oleh karena itu ada wadah lain sejenis Paguyuban di luar Peradi itu sah-sah saja,” ungkap Otto.
Otto dalam jumpa pers menjelaskan bahwa tidak adanya menteri yang hadir dalam Munas bukan karena posisi Peradi lemah, namun karena sedang ada Musrenbangnas di Jakarta sehingga sejumlah menteri tidak bisa hadir. Pembukaan Munas sendiri akan dilakukan oleh Gubernur Kalbar, Drs Cornelis, MH dan pemateri menampilkan Kejati Kalbar serta Kapolda Kalbar.
Isu aktual yang hangat dalam penegakan hukum tentu saja mark-up kasus yang populer disebut mafia kasus. “Perihal mafia kasus akan kita bahas di dalam Komisi C. Tidak hanya mafia kasus tapi juga 3-5 masalah-masalah aktual nasional lainnya,” tambah Achiel Suyanto.
Suwito menimpali bahwa mafia kasus yang menyeruak pasca Cicak-Buaya terjadi karena sistem dan adu domba. Hal ini yang penting diperbaiki.
Otto meneguhkan pendapat bahwa siapa saja dari anggota Peradi punya hak bicara dan hak suara. “Mereka yang ingin menjadi Ketua Peradi pasti banyak tetapi besoklah perkembangannya,” ujarnya. Otto sendiri hanya tersenyum lebar ketika ditanya peluangnya kembali memimpin Peradi. “Besok kan tidak lama lagi,” timpalnya diplomatis.
Di masa kepemimpinannya Otto dikenal humanis, dan berhasil memperjuangkan hak-hak Peradi dalam hal kepengacaraan. Bahkan pengakuan sampai tingkat internasional di Praha. Namun kelemahannya, sebagaimana dikemukakan sejumlah anggota Peradi, terkesan lamban. Lamban dalam hal administrasi, cetak kartu anggota dan pelantikan advokat yang mesti di Jakarta. “Peradi juga macan ompong yang tak bergigi karena tak ada pernyataan yang membela rakyat jelata. Pemimpin itu mesti kuat dan berani membela rakyat,” kata Dading, advokat dari Surabaya.
Perihal ini diakui Otto karena stafnya sedikit dan mesti verifikasi data. “Staf kita 5 orang mesti melayani 21.000 orang pasti lama,” ujarnya.