Selasa, 10 Maret 2009

INKLUSIF DAYAK

Sumber photo: www.thejakartapost.com
Oleh: Yohanes Supriyadi

Hampir 5 jam, saya memberi ceramah kepada para pendeta, penginjil, tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dari belasan kampung asal Kabupaten
Bengkayang dan Kota Singkawang. Mereka 40-an orang. Mereka mayoritas orang
Dayak, tetapi beberapa diantaranya non Dayak. Oleh panitia, saya diberi
tugas untuk menjelaskan filosofi hidup Orang Dayak dalam kerangka
membangun sikap inklusif ditengah-tengah perkembangan zaman sekarang ini.

Awalnya, memang saya agak ragu untuk menjelaskan topik ini, maklumlah,
para peserta umumnya para “ahli” teologi Kristen. Syukurlah, bersama saya,
hadir juga seorang ahli Dayak Selako, dari Kota Singkawang, Simon Takdir,
MA. Berdua Simon, saya mulai sesi dengan mengajak peserta nonton film
dokumenter “Dayak Tempoe Doeloe” yang berhasil dibuat oleh seorang
misionaris ditahun 1940-an. 45 menit waktu tersedia untuk menonton film
yang luar biasa ini, sebuah film yang mengisahkan budaya, filosofi,
kehidupan sehari-hari orang Dayak dimasa itu, masa dimana belum ada
ekspansi perkebunan, eksploitasi hutan, pengkaplingan tanah, perusakan
sungai, transmigrasi dari pulau lain dan perdagangan antar negara. Mereka
hidup dalam kedamaian, kerja keras, solidaritas sosial yang tinggi,
tinggal dirumah panjang, bebas dan aman menyelenggarakan ritual
tradisionalnya sebuah masa yang menurut saya penuh solidaritas, damai dan
mandiri.

Dari kejauhan, saya melihat decak kagum pada wajah-wajah peserta. Serius,
terkadang tergelak. Mereka kagum dengan keindahan masa lalu. Kagum akan
keagungan leluhur, kagum akan solidaritas sosial, kagum akan betapa
mulianya hati mereka memandang dirinya, orang lain, sang pencipta dan alam
semesta. Semuanya seakan telah membentuk sebuah sistem sosio-magis yang
mampu menopang masa depan Kalimantan. Tetapi itu 60 tahun lalu, he....

Pada sesi kedua, saya mengajak peserta untuk mengeksplorasi Orang Dayak
dimasa kini. Sebuah bangsa di Kalimantan yang mengalami berbagai pengaruh
global; dari pengaruh India, Islam, Kristen, Cina hingga Jawa.
Peristiwanya terjadi sejak abad ke-1. Warisan-warisan dari berbagai
pengaruh ini masih tampak; agama, ritual, situs-situs, bahasa hingga
perilaku sosial. Dari abad pertama masehi, pengaruh Hindu demikian kuat
dikalangan Dayak. Mereka mengenal kasta-kasta, terutama diperhuluan
kapuas. Sifat egaliter pada Orang Dayak menjadi berkurang karena pengaruh
ini. Kerajaan-kerajaan Hindu berdiri, dan memantapkan kekuasaan di kalangan
Dayak yang masih tersisa kini; temenggung, patih, mangku, jubata/dewata,
sesajian dalam ritual adat, dll. Banyak Orang Dayak menjadi Hinduis.
Beberapa ratus tahun kemudian, pengaruh Islam masuk. Kerajaan Hindu
berhasil terkonversi menjadi Kerajaan Islam, ini terutama di kawasan
pesisir; Sukadana, Matan, Simpang, Kubu, Pontianak, Landak, Mempawah,
Sambas. Perkawinan silang menjadi pola dalam konversi ini, termasuk
melalui jasa perdagangan. Orang Dayak juga mulai masuk Islam, sebagian
besar menyingkir ke pedalaman. Kesultanan Islam mengundang Cina dari Brunei
untuk menambang emas di Mandor (Kesultanan Mempawah) dan Monterado
(Kesultanan Sambas), dari sepuluh orang menjadi ratusan orang, bahkan
dalam kurun waktu 30 tahun, menjadi ratusan ribu orang. Populasi yang
besar, menjaga hubungan keluarga/klan, keamanan dan sumber emas yang
melimpah memotivasi Cina untuk bersekutu; mereka membentuk Kongsi. Ada 2
kongsi besar dan kuat, Mandor dan Monterado. Sistem pemerintahan Kongsi
ini mirip “pemerintahan republik”, sehingga banyak penulis barat
mengatakan seakan-akan ada republik di Borneo, kekuasaan kongsi ini cukup
lama, ratusan tahun. Kekuasaan Kongsi Cina yang lama juga berimbas pada
tatanan hidup orang Dayak. Terjadi inkulturasi adat, kebiasaan-kebiasaan
baru. Salah satunya yang paling berpengaruh dan terasa hingga hari ini
adalah; pesta-pesta, arak, judi. Bahkan dalam seorang Cina ditokohkan
Dayak sebagai salah seorang dewa; Nek Bancina Tanyukng Bunga (Nek Bancina
dari Tanjung Bunga, kawasan Pasir Panjang Kota Singkawang sekarang).

Perkawinan silang juga terjadi antara Cina dan Dayak, banyak orang Dayak
yang menjadi Cina dan sebaliknya, tergantung ia tinggal dikomunitas siapa.
Kuatnya Kongsi menjadi ancaman baru bagi Kesultanan Islam, terutama di
Sambas dan Mempawah. Peperangan demi peperangan terjadi, hasil akhirnya,
Kesultanan mengundang Kolonial Belanda untuk datang membantu dengan
beragam perjanjian. Beberapa Kesultanan terjebak dan akhirnya menundukan
diri pada Kolonial. Awal abad 19, dua Kongsi (Mandor dan Monterado)
berhasil ditaklukan Belanda dan dibubarkan secara resmi. Pembubaran Kongsi
menghancurkan kekuatan Cina, sebagian lari kepedalaman dan bergabung
dengan Dayak dan sebagian lari ke Singapura.

Untuk kepentingan administrasi kependudukan, pemerintah Kolonial melakukan
sensus penduduk. Hasilnya, penduduk non muslim dikategorikan sebagai suku
Dayak dan penduduk muslim disebutnya sebagai suku Melayu. Sebuah rekayasa
politik identitas dimulai, dan berhasil hingga hari ini. Melayu banyak
yang menjadi pegawai pemerintah kolonial, Dayak tetap sebagai pembayar
pajak berganda (balasteng). Dari segi pendidikan, Melayu lebih diutamakan
karena relasi yang amat baik dan mudah. Pada taraf tertentu, demikian juga
Cina. Untuk menghindarkan diri dari pajak berganda dan menaikan martabat
dan derajat, Orang Dayak memilih menjadi Islam dan kemudian menyebut diri
sebagai Melayu. Dikalangan Orang Dayak, mereka yang berkonversi ini
disebutnya Senganan, Urakng Laut, dll. Tetapi, pan islamisme makin merebak
di tanah air; Perang Aceh, Perang Padri di Minangkabau, dan sebagian besar
tanah Jawa. Belanda terdesak oleh gerakan ini.

Di Kalimantan Barat, gerakan ini juga meluas hingga dipedalaman, utamanya
dikampung-kampung sepanjang sungai kapuas. Belanda kemudian mengizinkan
Misionaris Katolik dan Zending Protestan masuk di Kalbar. Misi awalnya
membangun gereja di Sejiram, Kapuas Hulu. Sebuah sekolah juga didirikan.
Namun, gerakan pan islamisme semakin meluas di kawasan utara. Pihak misi
mendirikan sekolah dan gereja tak jauh dari Singkawang, Nyarumkop. Rumah
sakit juga didirikan, di Singkawang, dan Sei Jawi Pontianak. Para zending
juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit di Serukam, Bengkayang.
Hasilnya, Orang Dayak mulai memeluk Katolik dan Kristen dan bersekolah.
Selang 30 tahun pasca pendirian sekolah-sekolah ini, orang Dayak
berpendidikan mula sadar. Perjuangan bukan saja melalui pendidikan, tetapi
juga ekonomi dan politik. Beberapa koperasi didirikan, sebuah partai
politik dideklarasikan. Hasil akhirnya, orang Dayak mulai bisa menjadi
pegawai pemerintah, kepala daerah dan legislatif. Inilah periode pertama
kebangkitan Dayak, demikian Kristianus Atok mengungkap.

Kini, menurut Pak Teni, tokoh Katolik dari Samalantan, keadaan berubah
drastis. Orang Dayak merasa tidak aman dirumah sendiri; takut dengan masa
depan. Eksploitasi hutan begitu masif, pengkaplingan tanah untuk kawasan
perkebunan, pertambangan, perumahan terjadi disetiap sudut kampung.
Pemindahan penduduk dari luar pulau terjadi setiap hari, baik legal maupun
ilegal.

Hiburan malam terjadi setiap minggu, apalagi menjelang musim pesta
padi dan ujian akhir nasional (UAN) yang berpengaruh pada kualitas,
perilaku anak-anak dan remaja Dayak. Lain lagi dengan Pak Titus Tumba,
asal Mandung Tarusan. Ia menyorot perkawinan campur yang terjadi pada
gadis-gadis Dayak dikampung-kampung. Mereka menjadi “pindah suku” karena
konversi agama. “Saya takut, nanti Orang Dayak akan hilang” ujarnya
setengah berbisik. Saya terkejut. Tak jauh dari Pak Titus, seorang pemuda
Dayak juga bicara. Beberapa fakta terungkap, beberapa cerita menguap.
Salah satunya, Dayak mulai kehilangan situs-situs asli sebagai simbol
peradaban masa lalu. Pak Erdi, dari Serukam menjelaskan bahwa banyak
tempat keramat Dayak menjadi hilang, rusak dan ditinggalkan masyarakat
adat. “ini semua karena doktrin agama dan doktrin modernisasi, semua yang
berbau tradisional dianggap tahyul, kuno, primitif dan ketinggalan zaman”
katanya. Sorot matanya menyempit, ia sedih.

Bukti-bukti diatas, kiranya dapat menggambarkan inklusifisme Dayak. Sebuah
sikap yang mudah “beradaptasi” dengan perkembangan, pengaruh global.
Sebuah sikap yang menjadi ancaman dimasa depan,sekaligus peluang dimasa
kini. Kalau dikelola baik ia akan menjadi peluang masa depan, namun bila
tak dikelola secara baik, ia hanya akan menjadi ancaman bagi eksistensi
Dayak.