Minggu, 25 Januari 2009

CHINA IS MELAYU

Oleh
W. Suwito, SH., MH
Dirut PT Borneo Tribune Press

Kata Cina sering diidentikan dengan orang China atau orang Tionghua. Padahal berdasarkan asal usulnya China berarti bangsa Ching atau Negara Ching, dan Chinese untuk untuk sebutan suku bangsanya.
Dari dulu sampai sekarangpun orang Cina menyebut bangsanya dengan Cungkuok yang berasal dari kata Cung yang berarti Tengah-tengah, dan Kuok yang berarti Negara. Dan untuk orangnya disebut Cungkuok Jen atau orang Cungkuok.
Dalam ejaan bahasa Indonesia sebelum EYD tertulis “Tjoengkoeok”. Karena di depannya huruf “T” maka orang membaca Tiongkok dan orangnya disebut Tionghoa, dan kata-kata Tionghoa untuk suku Tionghoa asli berasal dari bumi nusantara ini. Tidak ditemukan di Cina dan di Amerika sekalipun.
Sebutan China mulai dikenal sejak Cungkok diperintah oleh Suku Manchin (dalam bahasa Khek) atau disingkat suku Ching yang merupakan Suku Melayu yang ada di daratan Cungkuok. Suku Ching atau Melayu Cina memerintah seluruh Daratan Cina selama 13 turunan, yang sangat dikenal dengan Kerajaan Mancuria Raya, yang mempunyai ciri penampilan khusus untuk seluruh prianya, besar, kecil, tua-muda rambut harus dikepang ke belakang dengan mencukur bagian depan kepalanya.
Akan tetapi selama memerintah Cungkuok, Manchin memanfaatkan orang Han dan ratusan suku bangsa yang ada di Cungkuok, serta mengadopsi dan mengasimilasi budaya orang Han yang Mayoritas di Cungkok. Dengan adopsi dan asimilasi budaya tersebut, maka suku Manchin sendiri menjadi tidak menonjol.
Dengan perkembangan zaman dan majunya pelayaran, dan banyaknya orang asing yang datang ke Cungkuok atau sebaliknya orang Cungkuok yang ke Eropa, maka dikenalkanlah kata “China” untuk  Bangsa
Ching, Kerajaan Mancuria Raya, yang berasal dari kata Ching dan Chinese untuk orangnya, pada Chinese itu artinya orang Ching.
Dengan kenyataan di atas, katanya Cina yang berasal dari kata China yang dibaca dalam bahasa Inggeris, Chaina atau Ching yang merupakan suku Manchin atau Suku Melayu, maka dapat disimpulkan bahwa kata Cina sama artinya dengan Melayu. Manchin atau Melayu yang memerintah selama 13 turunan tersebut telah berasimilasi dengan ratusan suku bangsa Cungkuok, termasuk mengadopsi budaya suku bangsa Han yang mayoritas.
Bahkan Bahasa sehari-hari suku Han (Putungfa) yang sekarang dikenal dengan bahasa Mandarin (baca: Man Ta Zen) yang berarti "Pembesar Manchin" dipakai sebagai bahasa Resmi Negara Ching.
Pemakaian Kata Cina di Indonesia dipopulerkan pada zaman orde baru yaitu dalam rangka politik pecah belah atau politik untuk memuluskan kekuasaan orde baru dengan memperdaya suku lainnya supaya anti cina. Walaupun orde baru telah tumbang, Adam Malik, orang yang mempopulerkan  dan kroninya suharto telah tiada, kata cina tetap dipakai, adanya yang sengaja dan sebagian mungkin latah karena lidahnya terlahir dari orde baru.
Dan kata Tionghoa pun tetap dipakai karena orang Tionghoa telah merasa lahir sebagai suku bangsa minoritas yang telah tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara ini sejak ratusan tahun, bahkan telah sebagian telah lahir sebagai suku bangsa Indonesia baru. Makanya orang orang tionghua tidak mau disebut Cina.
Di Kalimantan Barat dikenal Lo Fong Pak sebagai pendiri Republik Demokrasi Pertama di Dunia, jauh sebelum Amerika, yang terakhir penerusnya dihabisi oleh Kolonial Belanda tahun 1884.
Akhirnya terserah apa kata orang. Mungkin yang berkata tidak tahu, kakek moyang orang Tionghoa yang menganut patrilineal berlayar ke Nusantara kebanyakan tidak bawa isteri.
Bilang aku Cina juga benar, bilang aku Dayak juga benar, bilang aku Melayu juga benar, bilang aku Tinghoa juga benar, dan orang Indonesia pasti benar.