Jumat, 05 Desember 2008

Namanya Segawon


Oleh
Anna Lisa Pramajanti


Bagi sebagian orang, mempelajari bahasa asing adalah hal yang menyenangkan. Belum lama tiba di Yogyakarta, tempat kakak-kakakku terlebih dahulu mengenyam bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada, aku sudah ditawari ‘kursus singkat’ bahasa asing: bahasa Jawa. Sebagai pendatang baru tentu saja kusambut dengan senang hati. Biar lebih gaul, begitu pikirku.
“Kamu mesti belajar bahasa Jawa kromo inggil dulu,” saran Harri teman kakakku.Benar juga. Kita pasti akan terkesan sopan bila bisa berkomunikasi dalam level tertinggi yang katanya ‘paling halus’. Orang Jawa ‘kan terkenal halus budi pekertinya, demikian yang sering kudengar.
Ada tiga tingkatan dalam bahasa Jawa. Dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah yaitu kromo inggil, kromo, dan ngoko. Kromo inggil dipakai antara kaum bangsawan, orangtua dengan anaknya, maupun dengan orang yang dihormati atau dituakan. Ada lagi kromo yang disebut level sedang. Yang terakhir ngoko yang dikategorikan level bawah yang paling ‘kasar’. Justru tingkatan ini yang paling umum dan paling banyak dipakai di antara komunitas berbahasa Jawa.
Sudah terbayang. Betapa senang dan terkesimanya orang Jawa yang bakal kusapa dalam bahasa mereka. Bukan dalam ngoko tapi dengan cara yang ‘paling halus’, kromo inggil. Apalagi terlontar dari seorang pendatang baru dari Kalimantan. Uiihhhh….pasti keren abiisss….
Segera saja kuhafalkan sapaan dalam bahasa Jawa kromo inggil berikut cengkok nadanya. Kuulang berkali-kali sampai kupikir mirip orang lagi berdoa. Satu hal yang kusadari. Aku lupa menanyakan artinya. Tapi tak apalah. Yang penting bisa berbahasa Jawa walau hanya satu kalimat pendek saja.
Hari itu pun tiba. Seorang wanita yang tinggal di sebelah rumah kontrakan kami singgah. Demi melihat kami, gadis-gadis Kalimantan yang sedang berada di halaman depan mengantar teman yang mau pulang, ia masuk ke pekarangan yang memang tak berpagar. Semua orang dia salami. Tak terkecuali aku.
“Asmanipun sinten?” katanya
Ini dia. Langsung saja kubalas dengan hafalanku satu-satunya.
“Asmanipun segawon”, jawabku mantap sambil tersenyum semanis mungkin.
Sejenak hening.
Lalu “Huahahaha……..ha….ha…ha…..”
Meledaklah tawa kakak-kakakku dan temannya.
Mbak tadi hanya tersenyum geli. Karuan saja aku bengong. Setelah dijelaskan baru kusadari betapa konyolnya jawabanku tadi. Rupanya yang ditanyakan mbak itu adalah ‘namanya siapa?’. Dan jawaban ‘segawon’, sekalipun dalam kromo inggil, artinya : anjing.
(Publish in Harian Borneo Tribune on 5 December 2008)