Kamis, 11 Desember 2008

KATA-KATA DAPAT MENGUBAH DUNIA

Oleh: W Suwito

Mengubah dunia dengan kata seperti judul di atas? Why not? Sebab WS Rendra, si Presiden Sastra Indonesia, si burung merak pun berkata, “Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!”
Rendra mengucapkan kalimat puitis itu dalam banyak pidato kebudayaannya. Rendra juga mengutipkan kalimat tersebut dalam kompilasi lagu bersama Iwan Fals kolaborasi Kantata Takwa sebuah grup musik dapukan Setiawan Djodi. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!”
Kata-kata puitis dinyanyikan dengan indah. Nyawanya merasuk ke jiwa atau sukma kita.
Dengarkanlah lirik lagu Ebiet G Ade yang naturalis itu? Betapa menggugahnya. Dengarkanlah lagu-lagu Franky Sahilatua, Nugy. Semua mengalunkan kata-kata bijak pengubah mindset seseorang dari lemah menjadi tegar, dari lesu menjadi penuh gairah ilmiah.
Kata-kata Bung Karno sang proklamator menggugah dan membakar semangat kita. Semangat nasionalisme yang telah menyatukan gugusan beribu pulau menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat mengesankan. (Tergantung kita saat ini, bisakah dengan kata-kata mengubah Indonesia, sekaligus mengubah dunia?)
Di Kalbar pun terdapat putra-putri terbaik yang dengan kata bisa mengubah dunia. Dari masa raja di raja hingga siswa-siswi mutakhir saat ini.
Lihatlah pahatan karya Sultan Hamid II yang menggambar Burung Garuda. Di kaki si lambang negara itu tercengkeram tiga kata: Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah rangkaian kata dahsyat bagi Indonesia yang multi etnis, multi agama. Berbeda-beda tetapi tetap satu juga.
Tiga kata itu digali dari akar budaya bangsa. Sudah tertuang lewat rangkaian kata-kata Sotasoma dan Negara Kertagama. Hasil karya tulis yang merangkai kata-kata.
Kata bisa mengubah dunia adalah fenomena dahsyat. Kata-kata yang setiap hari bisa kita produksi baik lewat lisan, tulisan, bahkan lukisan.
Kata, hanyalah susunan huruf-huruf untuk bisa dibaca. Kata adalah satuan intonasi yang bisa didengar. Kata adalah empat huruf yang bisa menjadi tata kalimat yang panjang, yang bisa mengurai konsep menjadi kenyataan. Bisa mengubah kebiadaban menjadi peradaban.
Tapi apalah arti kata tanpa mampu dibaca? Apa pula arti kata jika tak punya jiwa?
Kemampuan membaca dan menjadikannya kenyataan adalah aplikasi dari manusia seutuhnya yang kita cari-cari saat ini. Kita rindu akan figur orang-orang yang pandai menulis, memproduksi kata-kata, tapi juga pintar menerapkannya menjadi kenyataan. Sehingga dengan demikian tidak termasuk angin pukul angin sehingga kita yang membaca atau mendengarkannya pun mual akibat masuk angin.
Kita tak juga mau dibuai kata-kata, sehingga menjadi taklid buta. Kita ingin kata mutiara sekalipun menjadi kenyataan. Karena di kenyataanlah kita berpijak, bukannya mimpi-mimpi yang utopis.
Sebuah papan reklame besar dengan wajah politisi memesankan: dunia tidak berubah hanya dengan kata-kata, tetapi siapa yang mampu menjadikannya realita. Politisi itu benar. Kata-katanya benar. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Sampai-sampai saya pun sudah kehabisan kosa kata untuk terus merangkai kata.
Terlebih saat mata saya tertuju pada papan reklame lain dengan kata-kata, “Talk less, do more.” Sedikit bicara, banyak bekerja. Tapi, bukankah empat kata itu pun kata-kata pula?