Senin, 17 November 2008

Ibuku, Inspirasiku

Oleh: Anna Lisa Pramajanti

Aku selalu kagum dan takjub dengan cerita-cerita yang dituturkan ibuku. Kisah-kisah petualangannya di usia sekolah, saat mengungsi ke hutan di jaman pendudukan Jepang, bekerja sebagai guru di pedalaman Kalimantan Barat, saat pertemuannya dengan pria yang menjadi ayahku, dan suka dukanya setelah menjadi istri tentara dan menjadi ibu bagi kami anak-anaknya.
Ibuku berperawakan sedang. Dilahirkan sebagai sulung dari sembilan bersaudara, Ibuku termasuk mungil mengingat semua saudaranya yang laki-laki dan perempuan berpostur badan di atas 170 cm. Nenek moyangnya merupakan orang Khek dari Provinsi Guangdong.
Kakek dari kakeknya perantau dari Tiongkok. Kakek buyut dari pihak ibunya bernama Chin Lin Long masuk ke Kalimantan Barat lewat Sarawak. Sudah lima generasi merambah dan mengakar di bumi khatulistiwa ini. Klan keluarganya dari pihak ayahnya yang bermarga Deng bahkan dikenal pemilik perusahaan Kong Nyan Sun yang bergerak di bidang kontraktor yang membangun jembatan, kapal, dan pabrik kayu.
Kulit ibu berwarna kuning terang, khas Mongoloid. Wajahnya oval dengan tulang pipi tinggi. Alisnya melengkung membentuk busur menaungi matanya yang besar bulat. Jika diamati, alis kanannya terlihat terputus di bagian tengah. Ada bekas luka membujur dari dahi hingga alisnya. Sesekali bila kuraba bekas luka ini saat aku merapikan bulu alisnya, ibu mengulang kisahnya.
Luka itu didapatnya dari istri paman jauhnya yang kalap mengira ibu telah memaki anaknya. Ibuku yang saat itu tengah menjahit baju dan tidak tahu menahu perkara dihajar dengan sebilah kayu di wajahnya. Pukulan itu semestinya ditujukan pada tanteku. Adik perempuan ibu yang sudah berulah. Bukan ibu bila dia diam saja menerima perlakuan tak beradab ini.
Merasa tidak bersalah, sambil menyeka darah segar yang mengucur dari jidatnya, ibu langsung meraih gunting berujung tajam dan menguber orang yang melukainya. Entah apa jadinya bila orang itu tak segera menutup rapat-rapat pintu rumahnya. Sungguh miris.
Sepintas lalu paras wajah ibu seperti wanita paruh baya lainnya. Rambutnya yang memutih disamarkan dengan pewarna rambut coklat kemerahan. Gelombang-gelombang yang dihasilkan dari keriting di salon menutupi kulit kepala yang mulai ditinggalkan helaian rambutnya. Di antara kedua alis terbentuk tiga guratan yang dalam. Kelopak mata mengendur dan membentuk lipatan menggantung, pipi yang tak lagi kencang, leher menggelambir, dan lekuk mendalam di sudut-sudut bibirnya.
Hidungnya lurus walau tak bisa dikategorikan mancung. Bibirnya sempurna dengan garis tegas di sekelilingnya. Dari tahun ke tahun semakin banyak kerutan di keningnya. ”Jalur kereta api,” begitu ujarnya.
Walaupun telah dimakan usia, raut wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kecantikan. Kecantikan yang pernah menjadi buah bibir di kalangan pemuda-pemuda dan pengusaha lajang yang naksir ibu semasa gadisnya.
Di usianya yang ke 73, Ibuku masih menunjukkan daya ingat yang baik. Di luar tanggal kelahiran ketujuh anak yang dilahirkannya, ia mampu menyebutkan nama tempat, waktu dan peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Mungkin sebagian orang akan mengira dia hanya sekedar mengambil moment atau tanggal tertentu. Paling mudah adalah memintanya bercerita kembali di lain waktu.
Pernah aku mendengarnya bercerita tentang masuknya bala tentara Jepang ke Pontianak. Giliran aku yang tercengang. Ibuku konsisten dengan memorinya. Pesawat-pesawat angkatan laut Jepang menghujani peluru menyapu apapun yang dilintasnyai. Bom pertama jatuh di lokasi yang kini dikenal sebagai Jalan Antasari. Hari itu, 27 Desember 1942, jam 2 siang. Hari yang mengubah masa kecil ibuku dan anak-anak lainnya. Mereka digiring memasuki lembar kehidupan yang kelabu beserta keluarga mereka. Babak hidup yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak juga oleh penduduk dan kaum cerdik pandai Kalimantan Barat yang dibantai dan dirampok oleh mereka yang menyebut dirinya Saudara Tua bangsa ini.
Ibu adalah pencerita yang ekspresif. Mimik wajahnya berubah-ubah seiring jalannya cerita. Nada bertutur pun berselang seling dari intonasi rendah ke tinggi, kadang terdengar memelas, merintih, menyentak, dan di saat lain mendikte seperti maharani bertitah pada pelayan-pelayannya.
Aku paling suka mendengar ibu mengisahkan dirinya sebagai sprinter. Bola matanya, yang kini mulai disinggahi katarak, berbinar saat menggambarkan kemenangan demi kemenangan yang diraihnya dari berbagai cabang olahraga yang dilombakan. Selain cemerlang di kelas dan menjadi murid kesayangan guru-gurunya, ibu juga jadi andalan di lapangan olahraga baik di tingkat sekolah maupun antar sekolah dasar dan menengah di jamannya.
Saat mendeskripsikan diri sebagai atlet lari, matanya mulai memicing dan alis pun bertaut. Bibirnya mengkerut, meruncing meloloskan udara seperti orang kepedasan makan sambal. Ada suara mendesis keluar dari mulutnya. Lomba lari yang sengit. Lagi-lagi ia mencapai finish duluan. Cuping hidungnya kembang kempis saking bangganya. Itu artinya tak perlu membeli buku tulis dan pensil selama satu semester atau bisa membagi-bagikan masing-masing sepasang kaos kaki putih pada adik-adiknya. Perasaan sayang terkandung dalam suaranya. Dan ibu akan menutup kisahnya dengan senyum di bibirnya.□