Senin, 17 November 2008

AKU, BEBEK GORENG DAN JAMES BOND

Oleh: Dwi Syafriyanti

Nonton film Mr.Bond. Mobil Avanza merah bernomor polisi KB 51 TI ini bergerak keluar dari pelataran parkir mal A.Yani. Malam itu hampir pukul 22.00'WIB.
Aku, Catur --adikku, Mbak Andi serta ketiga mahasiswa Bonn University Dorina, Sina dan Mathias masih asik berdiskusi soal film James Bond yang baru saja kami saksikan. Nur Is sang pemilik mobil menyerahkan 2 lembar uang ribuan pada seorang petugas parkir. Tak lama portal yang menghadang tepat di depan mobil yang kami tumpangi tersebut terbuka lebar.
Hiruk pikuk serta lalu lalang kendaraan di jalur utama kota Pontianak yang berada tepat di depan mal terbesar di Pontianak tersebut menyambut kami, dalam hitungan detik kami sudah menjadi bagian dalam keramaian kota di malam Sabtu itu.
Mendahulukan film kesayangan yang diputar pada pukul 18.45 wib itu, membuat kami semua menunda makan malam.
Sekarang waktunya. Kami memenuhi panggilan alam dengan rasa lapar yang tidak dapat ditunda lagi.
Bebek, oh bebek.
Biasanya warung itu mangkal tepat Jalan Suprapto, di depan sebuah rumah mewah milik mantan pejabat yang sudah tidak terawat.
Makan di warung bertenda tepat di sebagian halaman rumah mewah tak terurus itu terasa begitu nikmat. Menu andalan di sini –waktu itu, aneka. pecel; ada pecel lele, pecel burung, pecel ayam pecel bebek dan soto yang sangat `maknyus' rasanya, dan tidak jarang warung itu menjadi tempat lahirnya ide-ide aku dan sahabat-sahabatku yang biasa menjadikannya tempat diskusi dalam soal apapun --terutama soal koran kami dan kegiatan-kegiatan Tribune Institute, sampai tengah malam.
Tapi dalam beberapa bulan ini warung itu tiba-tiba menghilang...
Akhirnya..
Saya dan Nur Is berdiskusi soal di mana kami akan makan. Seperti biasa, sekalipun warung pecal lele yang menjadi langganan kami dalam beberapa bulan ini menghilang, kami tetap pada tujuan. Warung itu.
Kami bisa saja menemukan warung pecel lele yang lain, tapi dengan alasan terlanjur jatuh cinta, kami mau warung pecel lele itu. Dengan rasa penasaran sekaligus kerinduan pada bebek goreng favoritku itu kami menyusuri jalan tempat di mana warung pecel lele itu mangkal. Mobil yang dikemudikan Nur Is bergerak lamban, dan kami belum menemukannya.
"Lihat itu di belakang ada warung pecel lele.”
Catur memecah kebingungan kami semua.
Akhirnya, pencarian itu membuahkan hasil. Warung pecel lele itu dapat kutemukan. Pemiliknya sama.
Warung itu masih di kawasan yang sama, tapi berjarak hampir 300 meter ke arah timur dari tempat sebelumnya. Berada di depan tanah kosong, di samping rumah mewah berwarna kuning.
Sang pemilik warung beserta anak buahnya tersenyum manis pada kami. Dia kenal. Aku, Catur dan Nur Is adalah langganan setia.
"Ini malam pertama kami buka kembali Mbak".
"Kenapa pindah?" tanyaku.
"Rumah di situ sudah dikontrak orang Mbak".
Senyunn manis sang pemilik warung, tak dapat menyembunyikan kegetiran bahwa dia baru saja kehilangan tempat mangkal yang sudah dikunjungi banyak pelanggan sebelumnya itu.
Dia tahu diri halaman rumah mewah itu bukan miliknya, sewaktu-waktu dia harus pergi.
Kami makan.
Aku melepas kerinduanku pada pecel bebek dan membebaskan kami semua dari rasa lapar.
Malam makin larut, mungkin kurang dari setengah jam waktu eksekusinya Amrozi Cs, malam itu. -- 00.15.
Kami pun bergegas pulang ke rumah untuk beristirahat.
Di perjalanan aku bertanya dalam hati. Akan kucari kemanakah lagi warung pecel itu bila sewaktu-waktu pemilik tanah memanfaatkan miliknya karena warung itu berdiri di pinggir jalan tepat di depan tanah kosong dan di samping rumah mewah berwarna kuning itu.
Aku berpikir, andai James Bond sempat mencicipi bebek goreng favoritku itu, dia akan senang hati datang dari London sana untuk membantuku menyelidiki "hilangnya warung bebek gorengku....".