Rabu, 07 November 2007

Jaksa Agung Kunjungi PD Bintang Kalbar


by Budi Rahman

PONTIANAK—Sebagai perintis pertama usaha penangkaran Ikan Siluk (Sceloropages Formosus) di Kalbar, PD Bintang Kalbar memang patut mendapat bintang.
Hasil pembiakan varietas ikan yang terancam punah di habitat aslinya ini telah tersebar hingga manca negara. Kemasyhuran tambak miliki Halim Iredjo ini telah lama terdengar di kalangan pejabat pusat.
Sore, Selasa (10/7) kemarin, penangkaran Arwana di daerah Sungai Raya ini dikunjungi oleh Jaksa Agung RI, Hendarman Supandji. Rombongan pejabat nomor satu di lingkungan Kejaksaan Agung RI ini dibuat terpana dan terpesona dengan kolam dan ikan-ikan bernilai ekonomis tinggi tersebut.
Didorong rasa keprihatinan dan kepeduliannya terhadap populasi ikan Arwana, yang dikenal dengan sebutan ikan Siluk oleh warga Kalbar, Halim muda berinisiatif membiakkan ikan indah ini.
Tahun 1982, Halim Iredjo mengaku mulai merintis usahanya. Sebanyak 20 ekor indukkan ia datangkan langsung dari habitatnya di Kapuas Hulu. Setelah 25 tahun menekuni bisnisnya, kini tak kurang 2000 ekor induk Arwana tersebar di sejumlah kolam seluas 10 hektar miliknya. Untuk jenis Super Red menurut Halim hanya ada di Kalbar saja. “Di dunia yang ada cuma di Kalbar,” ujarnya menyebut populasi ikan tersebut.
Saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk melihat isi kolam-kolam yang dipenuhi ikan berharga puluhan bahkan ratusan jutaan itu. Bersama Pengusaha Bio Fuel kenamaan, Pak Elias Tana Moning dan Pengacara W.Suwito,SH.,MH., saya diajak melihat langsung ke penangkaran PD Bintang Kalbar.
Menurut Suwito, hasil penangkaran dari PD Bintang Kalbar ini sudah terkenal di kalangan pejabat di Jakarta. Ia menceritakan, dulu setiap ada kunjungan menteri atau pejabat penting, gubernur selalu membawa mereka berkunjung ke tambak ini.
“Pak Halim ini orang pertama yang mendapat izin menangkar dan mengekspor ikan Arwana dari lembaga dibawa naungan PBB,” ujar Suwito. Di salah satu kolam milik Halim ada gerombolan ikan-ikan raksasa yang nampak menyembulkan tubuhnya. Panjangnya sekitar 2 meter. “Ini arapaima gigas, satu keluarga dengan Ikan Arwana,” terang Pak Elias.
Sebuah sertifikat izin ekspor Arwana diminta tunjukkan oleh Suwito pada Halim Iredjo. The first company in the world to get permission from CITES (Convention on International Trade of Endangered Flora and Fauna) to export Arowana Fish. Begitu lisensi yang tertera di sertifikat itu.
Saya coba mengeja kalimat Inggris tersebut dengan bahasa Indonesia. “Perusahaan pertama di dunia yang diberi izin dari CITES untuk mengekspor Ikan Arwana. CITES, Konvensi internasional dalam perdagangan flora dan fauna berbahaya,” ujar saya sedikit PD.
“Bukan berbahaya, endangered itu artinya langka atau hampir punah,” ucap Pak Elias membetulkan ejaan saya. Jadi malu, Pak Elias adalah orang yang sudah advance bahasa Inggrisnya, 15 tahun lebih ia mukim di Amrik.
Panjang lebar kami mendapat pengarahan dari Halim Iredjo soal seluk beluk penangkaran Ikan Arwana. Ia nampak sangat menguasai tabiat dan gaya hidup ikan-ikan peliharaannya.
Sebagai pengusaha yang peduli pada populasi ikan mahal ini, Halim mengaku pernah melakukan penebaran ikan ini di habitat aslinya. Namun usahanya ini gagal karena tak didukung oleh masyarakat. “Habis kita restocking ke sungai, ikannya ditangkapin warga. Masyarakat tahu ikan ini mahal. Jadinya ta’ sempat berkembang ikannya,” ujar Halim.
Bersama Pak Elias saya sempat melihat akuarium tempat pemeliharaan ikan-ikan Arwana yang masih bayi. Nampak sudah demikian rapi tempat-tempat penampungan sementara bakal ikan yang akan di ekspor ke mancanegara itu. Saya salut juga dengan cara pengusaha ini memenej usahanya.
Saat matahari mulai meruntuh di usuk barat. Suwito membuka ponselnya, samar-samar saya mencuri dengar, Kepala Jaksa Agung yang ikut rombongan SBY ke Pontianak akan segera meluncur ke lokasi kami kongkow. Siap-siap kami menyambut sosok mantan Ketua Timtastipikor ini.
Tak lama berselang iring-iringan mobil merapat ke halaman rumah Halim yang juga tempat usahanya. Ajudan-ajudan rombongan Kejagung dan Kejati nampak berturunan dari mobil-mobil mereka. Kajagung keluar dengan setelan safari birunya, sedangkan Amrizal Kajati Kalbar masih lengkap dengan seragam dinasnya.
Suwito yang berprofesi sebagai lawyer tak bisa menyembunyikan rasa suka citanya atas kunjungan Hendarman dan rombongan. Senyum tak lepas dari bibirnya. Pada tamu-tamu istimewanya, Suwito dan Halim Iredjo mengajak mereka berkeliling melongok kolam-kolam ikannya. Seorang pekerja diminta mengambil kodok untuk umpan Arwana. Hendarman dan rombongan nampak kagum dengan kegesitan dan keganasan Arwana melahap kodok-kodok hidup itu. “Sehari berapa banyak dikasih makan pak?” tanya Hendarman. “Ya sekitar 150 kilo Pak,” jawab Halim.
“Ada yang bisa digoreng nggak?” tanya Hendarman iseng. Rombongan Kejagung ketawa-ketawa kecil mendengar pertanyaan bosnya. “Dulu memang di tempat asalnya, Arwana dibikin ikan asin,” jawab Halim lagi. Giliran Kajagung yang terperanjat.
Hendarman mengaku salut pada usaha penangkaran yang dimiliki oleh Halim Iredjo. Lahan yang luas dan ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi ini pikir Kajagung bukanlah investasi yang sepele. “Ini nanti siapa yang mewarisi?” lagi-lagi Hendarman terlihat tanpa beban menanyakan hal-hal yang cukup menggelitik pada Halim Iredjo. Halim pun menjawab pertanyaan dari Kajagung itu.
Puas berkeliling melihat penangkaran dan pembibitan Ikan Arwana, rombongan Kajagung dan Kajati disuguhi Durian. Beberapa buah Durian yang berbuah di luar musim disajikan pada rombongan tamu penting itu. Menikmati raja buah dengan tatapan menghampar pada kolam-kolam ikan Arwana menjelang sunset bisa jadi menjadi ajang pembuang penat dan ketegangan yang sempurna buat Kajagung setelah seharian bergumul dengan rutinitas yang melelahkan.

(Publish in Borneo Tribune, 11 Juli 2007)
TESX FOTO: IKAN SILOK. Kajagung Hendarman Supanji (tengah) diapit pemilik PD Bintang Kalbar, Halim Iredjo (kiri) dan W.Suwito SH MH (kanan) berkeliling melihat ikan-ikan Arwana dari satu kolam ke kolam lainnya. Foto Elias Tanamoning/Borneo Tribune