Jumat, 14 September 2007

Karyaku Adalah Doaku


(Profil Direktur Utama Borneo Tribune, W Suwito, SH., MH.)


Oleh Arthurio Oktavianus

Meski profesi resminya adalah advokat, tapi dia mengenal dunia pers bukan baru kemarin. Dia sudah bolak-balik ke pengadilan membela kepentingan hukum Harian Equator Pontianak yang menjadi kliennya sejak berapa tahun silam.
Ia tak pernah berhitung materi untuk menegakkan profesi. Dalam pergulatannya itu banyak hal yang ia ditemukan, termasuk semangat idealisme pers yang diemban para pekerja pers. Bukan sekadar seperti apa yang tampak, tetapi juga upaya pers dalam mencerdaskan masyarakat dan bangsa ini.
Nama kecil pria ini Suwito. Terlahir dari orangtua yang bernama Cong Fen Fui (Alm) yang dalam bahasa Jawa sama dengan Abdi dan nama Tionghuanya Zhang Dao Liang yang artinya Aturan.
Suwito dibaptis dengan nama Wilhelmus. Bagi penganut Katolik Roma, pemberian nama baptis dimaksudkan sebagai pelindung, karenanya diambil dari nama orang-orang suci. Wilhelmus adalah seorang Santo yang memiliki sifat kepemimpinan.
Tapi Suwito kecil yang lahir 36 tahun silam dibesarkan dalam lingkungan keluarga Tionghoa Indonesia yang bersahaja dan berbaur dengan semua etnis. Bahkan pendidikan pertamanya di mulai di bangku SD Madrasah Ibtidayah Sungai Raya Dalam sampai dengan kelas 2. Lantas melanjutkan ke SD Negeri No. 26 Pontianak Selatan.
Prestasinya sudah tampak ketika menamatkan pendidikan dasarnya itu tahun 1985, dengan predikat NEM tertinggi di sekolahnya. Tak ada kendala berarti baginya untuk menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 11 Pontianak. Demikian juga ketika 1988 menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pontianak. Tamat SMA, pada tahun 1991 setelah mengikuti UMPTN diterima di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak dan lulus sebagai Sarjana Hukum Tahun 1995. Ia di wisuda sebagai Lulusan Tercepat, Januari 1996.
Dasar otaknya encer, tahun itu juga dia diangkat menjadi Pengacara Praktek, dan langsung mendirikan Kantor Advokat W. Suwito, SH, & Associates. Ini juga berkat pengalamannya selama bekerja sebagai Asisten Pengacara Ny. Rachmawaty, SH sejak masih dibangku kuliah.
Meski sudah menjadi advokat Suwito masih belum puas menimba ilmu. Dia mendaftar ke Magister Hukum untuk Program Magister Ilmu Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak (PMIH-UNTAN) dan tamat tahun 2004.
Sesuai dengan Undang-Undang Advokat, semua advokat harus tergabung dalam salah satu organisasi Advokat. Sejak Tahun 2004, W. Suwito, SH., MH., menjabat ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Serikat Pengacara Indonesia (SPI) Kalbar, dan semua Advokat di Kantor Advokat W. Suwito, SH & Associates telah diverifikasi oleh Perhimpunan Advokasi Indonesia (Peradi).
Disamping sebagai salah satu Wakil Ketua Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Kantor Pontianak, dia juga telah diangkat dan diregister menjadi salah satu Arbiter Nasional BANI.
Tak kurang ia telah melanglang buana ke berbagai negara untuk mengikuti seminar dan kursus Arbitrase. Sebagai advokat yang berpengalaman banyak sudah kasus yang sukses di tangannya, baik Perdata, Pidana, maupun Tata Usaha Negara.
Ia pernah membela kepentingan hukum Kepala Kejaksaan Tinggi Kalbar, Kepala Badan Pertanahan, Mantan Bupati, Bank, perusahaan-perusahaan besar, sampai kepada rakyat jelata tanpa kecuali, termasuk perusahaan multinasional dan orang asing.
Perjalanan karirnya cukup mulus, demikian juga dalam hal keluarga. Dia Menikahi Anna Lisa Pramajanti, SS, lulusan Fakultas Sastra Perancis UGM. Kini ia memiliki dua orang putra yang lucu-lucu yaitu Antonius Justin dan Rafael Anson.
Sebagai seorang pekerja keras ia mempunyai motto yang cukup unik. “Karyaku adalah Doaku,” ujarnya suatu ketika. Karenanya dia melakukan pekerjaan dengan penuh dedikasi dan tanggungjawab. Keberhasilannya tak terlepas dari usaha keras dan sikap yang selalu berfikir positif, bahkan ketika sedang menghadapi masalah.
Dalam keberhasilannya, Suwito mengaku sangat sadar kalau semakin tinggi sebatang pohon, maka semakin kencang pula angin yang menerpa. Pengalaman menempanya menjadi orang yang tenang. Kejujuran adalah kunci sukses meniti profesi. Dia sering tak tega bila melihat ada yang tak berdaya dan teraniaya.
Pergaulannya yang banyak bersentuhan dengan para journalist Pontianak maupun luar negeri dimana ia turut bergulat di dalamnya secara langsung membuat dirinya semakin memahami makna sebuah idealisme dalam profesi.
Ini pula yang membuatnya turut terpacu membangun Borneo Tribune. Membangun media milik daerah, milik orang Kalbar untuk menampung dan mewujudkan aspirasi, idealisme dan cita-cita para journalist yang keluar dari Harian Equator, seperti H Nur Iskandar , Alexander Asriyadi Mering, Hairul Mikrad, Yakobus Tanto dan Yusriadi dan lain-lain untuk mewujudkan Idealisme, Keberagaman, dan Kebersamaan yang menjadi motto dan nafas Harian Borneo Tribune. (Publihs in Harian Borneo Tribune, 23 Agustus 2007)