Rabu, 19 April 2006

Speciment Pembukaan Rekening Disaksikan Bersama

Selasa, 17 April 2001
Pontianak- Kuasa hukum Budi Haryanto, W Suwito,SH., menegaskan kliennya tidak melakukan perbuatan sebagaimana dituduhkan oleh Sanusi Ismail pada kasus pembobolan dana Rp 658 juta pada BNI`46 Pontianak. Sebab saat membuka rekening pada BNI `46 Pontianak atas nama perusahaan PT Karya Bumi Pratama (KBP), Budi Hartanto membawa Sanusi Ismail untuk menandatangani bersama speciment pembukaan rekening. "Setelah itu sorenya Budi memasukkan dana ke rekening sebagai tanda setor,"tegas Suwito kepada AP Post, kemarin. Mengutip keterangan Budi, Suwito menjelaskan sesuai surat perjanjian yang ditandatangani maupun surat pelimpahan wewenang kepada Budi Hartanto secara otentik melalui notaris sudah jelas memilik kekuatan hukum. "Sewaktu di hadapan pimpinan BNI klien saya (Budi-red) mempertanyakan kepada Sanusi mengapa mesti ribut sebab dalam perjanjian awal sebelum Budi mengambil pekerjaan dari Sanusi sudah ada kesepakatan bersama yang kemudian dituangkan dalam akte notaris.
Jadi mengapa mesti ingkar,"katanya. Ditegaskan Suwito, jika terus-terusan seperti itu kliennya akan menghentikan pelaksanaan pekerjaaan di lapangan sebab semua permodalan darinya. Setiap penerimaam termin selalu dipotong angsuran uang muka sebesar Rp 20 persen. "Ternyata oleh Sanusi Ismail dirinya cuma menakut-nakuti Budi. Dihadapan Wakil Pimpinan BNI `46 Pontianak Mujiono masalah dianggap selesai. Cuma keesokan harinya Sanusi mendatangi BNI,"katanya. Lantas isteri Budi menelpon Dirut PT KBP bahwa selama ini yang melaksanakan seluruh pekerjaan adalah Budi. Lantas HM Najib, Dirut PT KBP mengkonfirmasi ke BNI sampai sejauhmana kebenaran atas masalah tersebut. Lantas HM Najib datang ke Pontianak dan mencabut surat kuasa direktur kepada Sanusi dan memberikan surat kuasa direktur kepada Budi, dengan alasan khawatir Budi tidak mau melaksanakan pekerjaan dan perusahaan akan diblack-list. (Rustam Halim, Appost)